Pertemanan Toxic pada Anak Sekolah: 5 Cara Ibu Mengenalkannya

Penulis: Faisal Hasbi  •  Rabu, 16 September 2026 | 14:04:31 WIB
Ilustrasi anak usia sekolah berinteraksi dengan teman sebaya di lingkungan sekolah.

SUMATERA BARAT — Psikolog klinis Laura Kastner menyebut pertemanan toxic sebagai hubungan yang memberi dampak buruk bagi kedua pihak, bukan cuma satu anak. Lewat lima cara berikut, ibu bisa membantu anak usia sekolah mengenali tanda-tanda pertemanan tidak sehat sejak dini, sebelum kebiasaan itu merusak rasa percaya dirinya.

Manipulasi, perilaku mengontrol, sampai tekanan emosional yang terus-menerus adalah beberapa hal yang menurut Kastner biasanya terlihat dalam pertemanan toxic. Anak yang mengalaminya bisa merasa direndahkan, tidak didukung, atau dikritik tanpa henti oleh temannya sendiri.

Yang bikin rumit, hubungan seperti ini sering tidak terlihat jelas dari luar. Anak tetap bisa tampak ceria bermain bersama temannya, padahal di dalam hatinya dia sedang tidak nyaman.

Apa Bedanya Pertemanan Toxic dan Bullying?

Kastner menjelaskan bullying adalah hubungan yang diwarnai tindakan menyakiti secara berulang dalam jangka waktu tertentu, dengan ketimpangan kekuatan antara kedua pihak. Pola ini biasanya konsisten dan jelas terlihat.

Pertemanan toxic berbeda. Teman yang toxic tidak selalu bersikap buruk sepanjang waktu. Ia bisa mengajak anak bermain, memberi dukungan, dan membuat anak tetap ingin dekat dengannya.

Di sela-sela momen baik itu, muncul perilaku merendahkan yang membuat anak merasa tertekan atau tidak berharga. Karena tidak terjadi terus-menerus, anak sering sulit menyadari bahwa hubungannya bermasalah.

1. Kenalkan Ciri-Ciri Teman yang Tidak Sehat

Terapis pernikahan dan keluarga Emily Zeller, LMFT, menyebut teman toxic adalah seseorang yang secara konsisten menunjukkan perilaku memanipulasi atau menyakiti anak, baik secara emosional, sosial, maupun fisik.

Zeller merinci beberapa polanya: selalu bersikap negatif seperti sering merendahkan atau mengejek, suka mengontrol dan posesif, menciptakan drama lewat rasa bersalah atau rumor, hubungan yang hanya berjalan satu arah, serta tekanan negatif seperti mengajak bolos sekolah.

Ibu bisa membahas daftar ini dengan bahasa sederhana, misalnya lewat cerita atau pertanyaan ringan soal teman-teman di sekolah.

2. Ajarkan Anak Mengenali Perasaannya Sendiri

Anak perlu tahu bahwa perasaan tidak nyaman adalah sinyal penting. Ketika dia merasa sering sedih, takut, atau lelah setelah bermain dengan teman tertentu, itu pertanda ada yang tidak beres.

Bantu anak menamai perasaannya. Tanyakan bagaimana perasaannya setelah bermain bersama teman itu, apakah senang, lega, atau justru cemas.

3. Amati Perubahan Perilaku Anak

Perubahan kebiasaan sehari-hari bisa jadi tanda yang perlu diperhatikan. Anak yang biasanya tidur dan makan dengan baik tiba-tiba berubah pola makannya.

Anak yang senang bermain di taman sepulang sekolah mendadak ingin langsung pulang. Atau anak tiba-tiba menolak mengikuti kegiatan olahraga yang sebelumnya sangat disukainya.

Kastner mengingatkan ibu untuk melihat seberapa sering, seberapa intens, dan seperti apa pola perilaku negatif itu terjadi. Perilaku buruk sesekali masih bagian dari proses belajar anak, tapi kalau berulang terus, itu tanda bahaya.

4. Bangun Ruang Aman untuk Bercerita

Mengenali pertemanan tidak sehat bukan hal mudah bagi anak. Bahkan ketika merasa tidak nyaman, anak belum tentu bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi kepada orang tua.

Karena itu, ibu perlu membangun kebiasaan ngobrol tanpa menghakimi. Hindari reaksi berlebihan saat anak bercerita, supaya dia tidak takut bercerita lagi di lain waktu.

Dengarkan dulu sampai selesai, baru tanyakan apa yang dia butuhkan darimu.

5. Latih Anak Menetapkan Batasan

Anak perlu tahu bahwa dia boleh menolak perlakuan yang membuatnya tidak nyaman. Ajarkan kalimat sederhana untuk menolak, seperti meminta temannya berhenti saat mengejek atau memaksa.

Latihan ini bisa dilakukan lewat bermain peran di rumah. Semakin sering dilatih, semakin percaya diri anak saat menghadapi situasi serupa di sekolah.

Kapan Ibu Perlu Turun Tangan Lebih Aktif?

Kalau perilaku negatif temannya sudah berulang, intens, dan mengganggu keseharian anak, ibu sebaiknya tidak tinggal diam. Ajak anak bicara lebih serius dan pertimbangkan berdiskusi dengan guru kelas atau guru BK di sekolah.

Jika anak menunjukkan tanda stres berat seperti murung berkepanjangan, menolak sekolah, atau kehilangan minat pada hal yang biasanya disukainya, konsultasi dengan psikolog anak bisa jadi langkah yang tepat.

Mengenalkan pertemanan toxic sejak dini bukan berarti menakut-nakuti anak soal berteman. Justru sebaliknya, anak jadi punya bekal untuk memilih hubungan yang membuatnya tumbuh lebih percaya diri.

Reporter: Faisal Hasbi
Sumber: haibunda.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top