SUMATERA BARAT — Pengiriman OPPO anjlok 24% year-on-year (yoy) pada Q1 2026—penurunan paling tajam di antara vendor top lima. Namun perusahaan asal China ini tetap bertahan di puncak berkat strategi yang justru kontra-intuitif: memperkuat portofolio kelas menengah, terutama seri A.
Counterpoint mencatat OPPO berhasil memanfaatkan konsumen kelas menengah yang relatif tidak terlalu sensitif terhadap kenaikan harga. Di saat biaya komponen global melonjak dan daya beli masyarakat melemah, segmen inilah yang justru menjadi bantalan.
Pangsa OPPO memang turun dari 27% pada Q1 2025 menjadi 22% saat ini. Tapi penurunan itu lebih kecil dari kontraksi pasar secara keseluruhan yang mencapai 9%—artinya OPPO masih kehilangan lebih sedikit dibanding rata-rata industri.
Xiaomi mempersempit jarak dengan pangsa 21% di Q1 2026, naik tipis dari 20% pada periode yang sama tahun lalu. Strateginya jelas: menggempur segmen entry-level lewat lini Redmi A-series yang menawarkan spesifikasi kompetitif dengan harga lebih murah.
Pengiriman Xiaomi hanya turun 4% yoy—jauh lebih kecil dari penurunan OPPO yang 24% atau vendor lain. Counterpoint menyebut keberhasilan ini juga didorong ekspansi jaringan ritel melalui konsep toko baru yang menonjolkan integrasi ekosistem perangkat pintar.
Meski begitu, Xiaomi masih menghadapi tekanan di segmen menengah akibat persaingan ketat dan beberapa penundaan produk. Tapi penurunan tipis 4% menunjukkan daya tahan yang lebih baik ketimbang kompetitor utamanya.
Counterpoint Research mencatat pengiriman smartphone di Indonesia turun 9% secara tahunan pada kuartal pertama 2026. Dua faktor utama disebut sebagai pemicu: kenaikan biaya komponen global dan melemahnya daya beli masyarakat.
Konsumen kini lebih berhati-hati melakukan upgrade perangkat. Siklus penggantian ponsel melambat, dan vendor dipaksa bersaing lebih ketat di segmen harga yang sama. Kondisi ini membuat dominasi OPPO di puncak terlihat semakin rapuh.
Fakta Singkat:
Data Counterpoint menunjukkan pergeseran penting: segmen entry-level dan menengah kini menjadi penentu peta kekuatan pasar. OPPO bertahan dengan seri A di kelas menengah, sementara Xiaomi mengandalkan Redmi A-series di entry-level.
Kenaikan biaya komponen global membuat harga ponsel di semua segmen naik. Akibatnya, konsumen kelas menengah yang tadinya bisa naik kelas ke flagship justru bertahan di kisaran Rp 3-5 juta. Vendor yang bisa mengakomodasi pergeseran ini—tanpa mengorbankan margin—akan bertahan.
Dominasi OPPO belum sepenuhnya aman. Dengan selisih hanya 1% dan pasar yang terus menyusut, posisi puncak bisa berganti di kuartal berikutnya. Xiaomi, dengan penurunan pengiriman yang lebih landai, jelas menjadi ancaman paling serius.