BUKITTINGGI — Sejarah panjang Kota Bukittinggi sebagai penyelamat Republik Indonesia kembali menjadi sorotan. Forum Cendekia dan Akademisi Sekolah Raja (Kweekschool) atau Ikatan Alumni SMA 2 (IASMA) Birugo menyerahkan kajian akademis yang menyimpulkan bahwa kota ini layak menyandang status Daerah Khusus.
Koordinator Tim Kajian, Prof. Rumainur Malin Batuah, menegaskan bahwa usulan ini bukanlah pemekaran wilayah atau pembentukan provinsi baru. "Kajian ini merupakan bentuk penguatan kewenangan tertentu untuk mendukung pengelolaan kota perjuangan, pusat budaya Minangkabau, kota warisan sejarah nasional, serta kawasan pariwisata dan ekonomi kreatif yang berkelanjutan," ujarnya di Bukittinggi, Senin (1/6).
Menurut Prof. Rumainur, Bukittinggi bukan sekadar kota wisata. Dari kota inilah Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) lahir pada 1948. PDRI menjaga keberlangsungan Republik Indonesia ketika ibu kota negara saat itu jatuh ke tangan Belanda.
"Bukittinggi adalah kota yang pernah menyelamatkan sejarah Republik Indonesia," tegasnya. Ia menyebut ada empat ibu kota Negara Kesatuan Republik Indonesia, yaitu Jakarta, Yogyakarta, Bukittinggi, dan IKN Nusantara. Namun, hanya Bukittinggi yang belum mendapatkan hak setara dengan tiga kota lainnya.
Status Daerah Khusus diharapkan menjadi instrumen untuk memperkuat pendidikan sejarah dan kebangsaan, melestarikan warisan budaya Minangkabau, serta mengembangkan ekonomi kreatif dan pariwisata berkelanjutan. Selain itu, status ini juga bertujuan memperkuat pengelolaan kawasan heritage nasional dan meningkatkan kualitas tata kelola perkotaan.
Rumainur menjelaskan bahwa Bukittinggi saat ini menjalankan fungsi strategis sebagai pusat perdagangan, pendidikan, budaya, jasa, dan pariwisata di Sumatera Barat. "Fungsi regional yang besar tersebut memerlukan tata kelola yang lebih adaptif agar mampu menjawab tantangan pembangunan masa depan," katanya.
Wakil Wali Kota Bukittinggi, Ibnu Asis, menyambut baik penyerahan kajian tersebut. Ia menyebut SMAN 2 Bukittinggi, yang dahulu dikenal sebagai Sekolah Rajo, memiliki keterkaitan erat dengan perjalanan sejarah Kota Bukittinggi. Sekolah ini telah melahirkan banyak tokoh nasional dan berkontribusi bagi kemajuan bangsa.
Kajian disusun oleh tim cendekia dan akademisi lintas disiplin ilmu. Hasil kajian diserahkan tim bersama Ketua IASMA 2 Birugo M. Fadli dan Legislator Ade Rizki sebagai perwakilan alumni kepada pemerintah daerah. Forum Cendekia dan Akademisi IASMA Birugo mengajak seluruh elemen masyarakat, pemerintah daerah, provinsi, pusat, akademisi, tokoh adat, generasi muda, hingga perantau Minangkabau untuk membuka ruang dialog konstruktif.
"Kajian dan Usulan Daerah Khusus Bukittinggi bukan hanya tentang masa lalu. Ini adalah upaya menempatkan sejarah sebagai fondasi pembangunan masa depan," kata Prof. Rumainur. "Bukittinggi telah menjadi bagian penting dalam lahir dan bertahannya Republik Indonesia. Kini saatnya peran strategis tersebut memperoleh perhatian yang proporsional dalam pembangunan nasional."