PADANG — Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Barat mencatat nilai ekspor provinsi ini pada April 2026 mencapai US$246,87 juta, melesat 65,29 persen dibanding April 2025. Kenaikan ini terjadi di tengah pelemahan rupiah yang kini bertengger di Rp18.000 per dolar AS, level terlemah dalam beberapa tahun terakhir.
Secara kumulatif Januari–April 2026, total ekspor Sumbar tembus US$1,03 miliar. Kontribusi terbesar berasal dari golongan lemak dan minyak hewan/nabati (HS 15) yang mencapai US$879,26 juta, naik 36,43 persen. Komoditas utama dalam kelompok ini adalah liquid fractions of palm oil (US$421,19 juta), CPO (US$246,57 juta), dan refined palm oil (US$149,54 juta).
Sepanjang Januari–April 2026, tiga negara tujuan ekspor utama Sumbar menyerap lebih dari separuh total ekspor. India menjadi pangsa pasar terbesar dengan nilai US$267,06 juta atau 25,80 persen, disusul Pakistan US$177,39 juta (17,14 persen), dan Myanmar US$120,59 juta (11,65 persen). Komoditas utama yang dikirim ke India adalah CPO.
Kontribusi ketiga negara ini mencapai 54,58 persen dari total ekspor Sumbar. Sisanya tersebar ke negara-negara Asia dan Timur Tengah lainnya.
Dari sisi sektor, ekspor hasil industri pengolahan Januari–April 2026 naik 31,91 persen dibanding periode yang sama tahun 2025. Sektor pertambangan bahkan melonjak 1.287,67 persen meskipun kontribusinya masih kecil secara absolut. Sebaliknya, ekspor hasil pertanian turun 9,81 persen.
Di antara 10 komoditas ekspor terbesar, peningkatan tertinggi terjadi pada golongan ampas/sisa industri makanan (HS 23) yang naik 78,05 persen menjadi US$11,67 juta. Sementara penurunan terdalam dialami minyak atsiri, kosmetik, dan wangi-wangian (HS 33) yang ambles 34,50 persen menjadi US$5,57 juta.
Di sisi impor, BPS mencatat nilai impor Sumbar pada April 2026 mencapai US$139,11 juta, naik 260,05 persen dibanding April 2025. Lonjakan ini terutama dipicu oleh impor bahan bakar mineral yang membengkak 290,25 persen menjadi US$304,51 juta selama Januari–April 2026.
Lima golongan barang utama menyumbang 98,21 persen dari total impor Sumbar. Selain bahan bakar mineral, impor bahan kimia organik naik 116,80 persen, sementara pupuk naik 28,74 persen. Satu-satunya yang turun adalah golongan ampas/sisa industri makanan yang melemah 7,11 persen.
Selama Januari–April 2026, Singapura menjadi pemasok barang impor terbesar bagi Sumbar dengan nilai US$247,20 juta atau 67,83 persen dari total impor. Disusul Malaysia US$59,03 juta (16,20 persen), Argentina US$19,15 juta (5,26 persen), Kanada US$15,54 juta (4,26 persen), dan Australia US$7,26 juta (1,99 persen).
Dominasi Singapura menunjukkan ketergantungan Sumbar pada bahan bakar mineral yang sebagian besar diimpor dari negara tetangga tersebut.