PADANG — Stasiun Kayutanam di Nagari Kayutanam, Kabupaten Padang Pariaman, tak lagi sekadar saksi bisu sejarah perkeretaapian kolonial. Kini, stasiun kelas II berstatus cagar budaya itu menjelma menjadi simpul mobilitas modern yang menghubungkan warga dataran tinggi dengan pusat Kota Padang. Transformasi ini diikuti lonjakan jumlah penumpang hingga 87 persen dalam lima bulan pertama tahun 2026.
Kepala Humas KAI Divre II Sumatera Barat, Reza Shahab, menyebut peningkatan ini sebagai bukti kepercayaan masyarakat terhadap layanan kereta api lokal. “Pertumbuhan volume pelanggan KA Lembah Anai hingga 87 persen menjadi bukti bahwa masyarakat semakin percaya dan menjadikan kereta api sebagai pilihan transportasi yang andal,” ujarnya dalam keterangan resmi yang diterima di Padang, baru-baru ini.
Mulai 1 Januari 2026, KAI mengubah relasi KA Lembah Anai dari rute sebelumnya Kayutanam–Bandara Internasional Minangkabau (BIM) menjadi Kayutanam–Padang. Perubahan ini merespons kebutuhan mobilitas harian warga yang lebih banyak menuju pusat kota.
Kapasitas angkut juga ditingkatkan secara signifikan. KAI mengganti armada dari Railbus berkapasitas 78 tempat duduk menjadi rangkaian kereta kelas ekonomi (K3) dengan kapasitas 192 tempat duduk. Dengan demikian, jumlah penumpang yang bisa diangkut dalam satu perjalanan bertambah lebih dari dua kali lipat.
KA Lembah Anai melayani enam perjalanan pulang-pergi setiap hari. Untuk relasi Padang–Duku, penumpang cukup membayar Rp3.000, sementara untuk relasi Padang–Kayutanam tarifnya Rp5.000. Harga ini menjadikan kereta api sebagai moda transportasi paling ekonomis di jalur tersebut.
Jadwal keberangkatan dari Kayutanam menuju Padang tersedia pada pukul 05.30 WIB, 11.40 WIB, dan 16.20 WIB. Sementara dari Padang menuju Kayutanam, kereta berangkat pukul 08.35 WIB, 14.10 WIB, dan 18.55 WIB. Waktu tempuh rata-rata sekitar satu setengah jam.
Data KAI Divre II Sumbar menunjukkan tren peningkatan volume pelanggan yang konsisten. Pada Januari–Mei 2023, tercatat 11.680 pelanggan. Angka itu naik menjadi 13.135 pelanggan pada periode yang sama di 2024, dan 13.260 pelanggan pada 2025. Lonjakan drastis terjadi pada Januari–Mei 2026 yang mencapai 24.783 pelanggan.
Peningkatan 87 persen ini mencerminkan perpindahan moda dari kendaraan pribadi ke transportasi massal berbasis rel. “Pencapaian ini menjadi motivasi bagi KAI Divre II Sumbar untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan sehingga setiap perjalanan dapat berlangsung dengan aman, nyaman, selamat, dan tepat waktu,” tambah Reza Shahab.
Stasiun Kayutanam menyimpan nilai sejarah panjang. Dibangun pada masa kolonial Belanda, stasiun ini pernah menjadi titik awal jalur kereta api bergigi (rack railway) satu-satunya di Sumatera Barat yang melintasi medan pegunungan menuju Padang Panjang. Meski jalur tersebut kini hanya tinggal kenangan, bangunan stasiun tetap dipertahankan dengan arsitektur kolonial yang terawat.
Setelah vakum bertahun-tahun, stasiun ini kembali beroperasi melayani kereta api lokal sejak 2016. Kini, dengan kapasitas lebih besar dan rute yang lebih relevan, Stasiun Kayutanam menjelma menjadi simpul mobilitas yang menghubungkan sejarah dengan kebutuhan transportasi modern masyarakat Sumatera Barat.