PADANG — Aksesibilitas menuju destinasi wisata di Sumatera Barat dinilai belum pulih total pascabencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda provinsi itu. Kepala Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Sumbar yang juga akademisi Unand, Sari Lenggogeni, menyebut persoalan ini menjadi tantangan paling krusial yang harus segera diatasi.
"Sekarang ini yang menjadi masalah di Sumatera Barat adalah aksesibilitas dan konektivitas," kata Sari di Padang, Selasa.
Salah satu titik kritis yang disorot adalah ruas Jalan Nasional di Lembah Anai. Jalur penghubung Kota Padang dengan Kota Bukittinggi itu sempat terputus total akibat diterjang banjir bandang. Meski Kementerian Pekerjaan Umum terus mengejar perbaikan, dampaknya terhadap sektor pariwisata sudah terasa.
"Kami sudah survei, ternyata banyak wisatawan yang mengeluhkan dan komplain karena waktu tempuh yang lama di jalan," ujar Sari.
Menghadapi situasi ini, Sari mendorong pengambil kebijakan untuk mengarahkan pengembangan pariwisata ke daerah yang tidak terdampak langsung bencana. Kota Padang dan kawasan Mandeh di Kabupaten Pesisir Selatan dinilai sebagai pilihan menarik bagi pelancong.
Kabupaten Kepulauan Mentawai juga direkomendasikan sebagai destinasi utama. Selain terkenal dengan ombak selancar kelas dunia, daerah berjuluk Bumi Sikerei itu menyimpan potensi wisata minat khusus alam dan kekayaan budaya asli, termasuk tradisi tato tertua di dunia yang telah menarik minat publik figur dalam dan luar negeri.
Namun, akses menuju Mentawai masih terbatas. Hingga saat ini, belum ada maskapai yang menerbangkan pesawat berbadan besar ke Bandara Udara Mentawai. Penyebabnya, landasan pacu bandara setempat hanya berukuran 1.500 x 30 meter, sehingga hanya mampu dilandasi pesawat tipe ATR 72-600.
"Jadi, dengan segala kekayaan alam Sumbar ini, yang terpenting ialah percepatan aksesibilitas dan konektivitas khususnya bagi wisatawan," tegas Sari.