PADANG — Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, menilai provinsinya memiliki modal cukup kuat untuk mempercepat gerakan deteksi dini kanker. Modal itu mencakup 78 rumah sakit, sekitar 250 puskesmas, lebih dari 9.000 tenaga perawat, dan 1.035 dokter yang tersebar di seluruh daerah.
“Jawabannya adalah deteksi dini. Melalui skrining, kanker dapat ditemukan pada stadium awal sehingga peluang keberhasilan pengobatan menjadi jauh lebih tinggi,” ujar Mahyeldi dalam sambutannya di Hotel Truntum Padang.
Pemerintah pusat telah meluncurkan program cek kesehatan gratis sebagai bagian dari upaya promotif dan preventif. Namun, Mahyeldi mengungkapkan bahwa pelaksanaannya di Sumatera Barat masih perlu dipercepat.
“Saya mendapat laporan capaiannya baru sekitar 38 persen. Artinya masih banyak masyarakat yang belum memanfaatkan layanan tersebut. Kita harus mencari penyebabnya dan bersama-sama mempercepat pelaksanaannya,” katanya.
Untuk mendukung percepatan itu, Mahyeldi mendorong optimalisasi dana tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dan dukungan Baznas sebagai pelengkap pembiayaan di luar APBD dan pemerintah pusat.
“Kita harus membangun kolaborasi. Perusahaan dapat berkontribusi melalui CSR, Baznas juga bisa disinergikan. Yang kita kejar adalah percepatan agar masyarakat memperoleh layanan deteksi dini sedini mungkin,” tegas Mahyeldi.
Mahyeldi meminta Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat menyiapkan langkah-langkah penguatan regulasi. Langkah itu mulai dari penerbitan surat edaran hingga penyusunan kebijakan yang lebih kuat apabila diperlukan untuk mendukung gerakan deteksi dini kanker.
“Saya melihat semangat semua pihak sudah sama. Tinggal bagaimana kita mempercepat langkah nyata agar deteksi dini benar-benar menjadi gerakan bersama di Sumatera Barat,” ucapnya.
Simposium Awam Kanker 2026 yang mengusung tema The Journey of Cancer Survivors diselenggarakan oleh Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Koordinatoriat Sumatera Barat. Kegiatan ini diikuti 75 peserta simposium awam, 50 dokter spesialis kebidanan dalam pelatihan manajemen lesi prakanker, serta para bidan dari berbagai daerah yang mengikuti seminar manajemen kekuatan otot dasar panggul.
Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil Padang, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua, mengatakan bahwa simposium tersebut menjadi bentuk sinergi berbagai pihak dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pencegahan, deteksi dini, pengobatan, hingga pendampingan bagi pasien dan penyintas kanker.
“Kanker masih menjadi salah satu penyebab utama kesakitan dan kematian di Indonesia. Namun, melalui deteksi dini, penanganan yang tepat, serta dukungan keluarga dan masyarakat, banyak penyintas kanker mampu hidup produktif dan berkualitas,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Panitia Dr. Dolly Nurdin Lubis menyampaikan bahwa kegiatan ini diharapkan mampu memperkuat komitmen seluruh pemangku kepentingan. “Sehingga upaya penanggulangan kanker di Sumatera Barat dapat berjalan lebih efektif, terintegrasi, dan berkelanjutan,” kata Dolly.