PADANG PANJANG — Hendri Arnis mengingatkan bahwa masa sekolah bukan sekadar ruang untuk mengejar nilai akademik, melainkan juga ajang mengasah potensi diri dan membangun karakter. Menurutnya, kebiasaan sederhana bisa menjadi fondasi kuat bagi masa depan siswa.
"Dengan kebiasaan sederhana seperti bangun pagi, beribadah, berolahraga, mengonsumsi makanan bergizi, gemar belajar, aktif bermasyarakat, hingga tidur lebih awal akan terbentuk pribadi yang disiplin, sehat, cerdas, dan berkarakter," kata Hendri dalam keterangannya.
Di hadapan para guru dan siswa, Hendri juga menekankan pentingnya menciptakan suasana belajar yang aman, nyaman, dan inklusif. Ia meminta seluruh pihak di sekolah untuk memastikan tidak ada praktik perundungan yang bisa mengganggu proses tumbuh kembang anak.
"Suasana belajar yang kondusif akan mendukung peserta didik berkembang secara optimal," ujarnya.
Hendri turut menjelaskan kebijakan jam masuk sekolah yang dimajukan menjadi pukul 06.25 WIB. Langkah ini, kata dia, sengaja dirancang untuk membudayakan disiplin sejak dini. Siswa diharapkan terbiasa bangun lebih pagi, beribadah, sarapan sehat, dan tiba di sekolah dalam kondisi fisik serta mental yang prima.
Ia mengakui perubahan jam masuk ini membutuhkan penyesuaian, terutama bagi para orang tua. "Memang setiap perubahan membutuhkan proses penyesuaian. Kami memahami para orang tua, terutama ibu-ibu, mungkin perlu menyesuaikan rutinitas pagi. Namun perubahan ini dilakukan demi membentuk karakter anak-anak menjadi lebih disiplin dan siap menghadapi masa depan," jelasnya.
Hendri menambahkan, udara sejuk Kota Padang Panjang menjadi faktor pendukung agar proses belajar pagi hari berlangsung lebih efektif dan nyaman.
Kebijakan lima hari sekolah juga disinggung. Menurut Hendri, kebijakan itu sejalan dengan aturan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat. Akhir pekan diharapkan bisa dimanfaatkan keluarga untuk memperkuat pendidikan karakter anak melalui kegiatan keagamaan, olahraga, atau aktivitas positif lainnya.
Pada kesempatan yang sama, Hendri mengajak para orang tua, khususnya ayah, untuk terlibat dalam Gerakan Ayah Mengantar Anak ke Sekolah (GAMAS). Menurutnya, kehadiran orang tua di hari pertama sekolah memiliki dampak psikologis yang besar bagi anak.
"Kehadiran ayah atau wali pada hari pertama sekolah merupakan bentuk dukungan nyata yang mampu menumbuhkan rasa percaya diri, memberikan rasa aman, serta memperkuat ikatan emosional antara orang tua dan anak," katanya.
Ia menilai, meluangkan beberapa menit untuk mengantar, memeluk, dan mendoakan anak sebelum masuk kelas akan menjadi kenangan berharga yang membekas sepanjang hidup mereka.