PADANG — Ledakan terjadi di MAN 3, Kelurahan Balai Gadang, Kecamatan Koto Tengah, Kota Padang, pada Selasa (14/7/2026). Beruntung, peristiwa tersebut tidak menimbulkan korban jiwa. Barang yang diduga bom rakitan itu pertama kali ditemukan petugas keamanan sekolah, yang kemudian melaporkan kejadian itu ke polisi.
Kabid Humas Polda Sumatera Barat, Kombes Susmelawati Rosya, membenarkan bahwa R bertindak karena tekanan psikologis. "Iya betul korban bullying karena tekanan psikologi sering jadi objek ejekan teman-temannya ya, dia berbuat seperti itu," ujarnya, Selasa (14/7/2026).
R merasa dirinya kerap menjadi objek perundungan. "Jadi masalah psikologis yang mendalam karena menjadi korban bullying," ungkap Kombes Rosya. Polisi saat ini fokus pada pemulihan kondisi kejiwaan R.
Jubir Densus 88 Antiteror Polri, Kombes Mayndra Eka, mengungkapkan bahwa R belajar merakit bom secara daring. "Terduga juga mengaku mempelajari pembuatan bahan peledak secara daring dan terinspirasi oleh peristiwa bom di sebuah SMA di Jakarta pada tahun 2025," ucapnya.
Berdasarkan keterangan awal, perangkat diduga dirakit secara mandiri menggunakan bahan-bahan yang diperoleh secara daring dan dibuat di rumah tanpa sepengetahuan orang tuanya. "Pelaku juga mengaku telah bergabung dalam sejumlah grup daring yang membahas pembuatan bahan ledak. Seluruh pengakuan tersebut masih dalam proses verifikasi dan pendalaman lebih lanjut oleh aparat penegak hukum," kata Mayndra.
Dari pemeriksaan awal, petugas mengamankan sejumlah barang milik R, antara lain kotak hitam, tas hitam, telepon genggam, petasan, pisau, anak panah, kelereng, dan baut. Saat ini R telah dibawa ke Polresta Padang untuk penyelidikan lebih lanjut.
"Kita fokus pemulihan anak karena si anak melakukan itu bukan jaringan seperti yang kita pikirkan ya. Dan kita melakukan pemulihan-pemulihan ke arah lain takut terpapar lebih parah pokonya mengamankan dulu sambil diperiksa," tutur Kombes Rosya. Densus 88 bersama Polda Sumbar masih meminta keterangan saksi-saksi guna pendalaman kasus ini.