PADANG — BNPB memastikan pembangunan huntap mandiri di Sumatera Barat akan menggunakan standar rumah tipe 36, lengkap dengan dua kamar tidur, satu ruang tamu, kamar mandi, dan dapur. Opsi ini dinilai lebih efektif ketimbang skema huntap komunal yang mewajibkan pemda menyiapkan lahan relokasi terlebih dahulu sebelum konstruksi dimulai.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menjelaskan bahwa pilihan huntap mandiri memberi keleluasaan bagi warga terdampak untuk mengajukan pembangunan kembali rumah di atas tanah milik mereka sendiri (in situ). "Pilihan ini memungkinkan pembangunan huntap berjalan lebih cepat, karena lahan atau tanah relokasi telah tersedia, sehingga BNPB dapat segera melakukan pembangunan," ujarnya di Jakarta, Rabu.
Skema ini menjadi solusi atas kendala klasik dalam pemulihan pascabencana, yaitu ketersediaan lahan. Dengan huntap mandiri, warga tidak perlu menunggu proses pengadaan tanah yang kerap memakan waktu berbulan-bulan.
Berdasarkan data rekapitulasi per Senin (13/7), target pembangunan huntap mandiri menyebar di sembilan kabupaten dan kota di Sumatera Barat. Berikut rinciannya:
Dalam pelaksanaannya di Sumatera Barat, BNPB menggandeng PT Semen Padang untuk mengaplikasikan inovasi teknologi Sepablock. Material bata saling mengunci (interlocking) ini diklaim ramah gempa, ramah lingkungan, dan cepat dibangun. Abdul menegaskan bahwa sinergi lintas sektor ini merupakan komitmen pemerintah untuk menerapkan prinsip membangun kembali dengan lebih aman dan baik secara terarah serta berkelanjutan.
Penggunaan teknologi ini diharapkan tidak hanya mempercepat proses konstruksi, tetapi juga menghasilkan hunian yang lebih tahan terhadap guncangan gempa, mengingat Sumatera Barat berada di zona rawan gempa.