AGAM — Di tengah gempuran produk pemanis buatan dan gula rafinasi, sekelompok perajin di Nagari Kapau, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, masih setia menekuni pembuatan gula saka secara tradisional. Proses yang mereka jalani bukan sekadar produksi, melainkan ritual menjaga warisan leluhur yang nyaris punah. Setelah batang tebu digiling dan sarinya disaring, langkah selanjutnya adalah perebusan air tebu di atas tungku tradisional berbahan bakar kayu.
Perebusan dengan tungku tradisional bukan tanpa alasan. Panas dari api kayu yang tidak stabil justru diyakini memberikan karakter unik pada gula saka. Suhu yang turun-naik secara alami ini membuat proses karamelisasi berlangsung sempurna, menghasilkan aroma dan rasa yang lebih kompleks. "Ini sudah turun-temurun. Kalau pakai kompor gas, rasanya beda, kurang mantap," ujar salah seorang perajin kepada tim Trans TV dalam tayangan Tanah Air Beta.
Air tebu yang telah disaring kemudian dimasak dalam wajan besar di atas tungku. Proses ini memakan waktu berjam-jam, membutuhkan kesabaran dan keahlian khusus. Para perajin harus terus mengaduk adonan agar tidak gosong dan matang merata. Tingkat kematangan diukur secara manual, mulai dari tekstur yang mengental hingga akhirnya membentuk kristal-kristal gula saka yang siap dicetak.
Meski memiliki cita rasa khas dan nilai budaya tinggi, regenerasi perajin gula saka di Nagari Kapau menjadi tantangan serius. Generasi muda lebih tertarik bekerja di sektor jasa atau merantau ke kota besar. Padahal, gula saka tidak hanya menjadi pemanis alami, tetapi juga bagian dari identitas kuliner Minangkabau yang kerap digunakan dalam berbagai masakan tradisional.
Dengan produksi yang masih mengandalkan cara-cara manual dan jumlah perajin yang terus berkurang, eksistensi gula saka asli Nagari Kapau kini bergantung pada kesadaran pasar dan dukungan pemerintah daerah. Tanpa itu, tradisi merebus air tebu di tungku tradisional ini bisa tinggal kenangan.