SAWAHLUNTO — Sebanyak 108 keluarga desil 1 di sembilan desa dan kelurahan di Kota Sawahlunto menjadi penerima bantuan 10.000 butir telur yang disalurkan Pemerintah Kota Sawahlunto. Bantuan ini merupakan hasil kolaborasi dengan PT Charoen Pokphand Indonesia melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) Kota Sawahlunto Heni Purwaningsih mengatakan, penerima bantuan ditetapkan berdasarkan peta kerentanan pangan prioritas 2. Pendekatan ini memastikan bantuan tepat sasaran kepada masyarakat yang memiliki keterbatasan akses terhadap pangan bergizi.
Heni menjelaskan, telur dipilih karena merupakan sumber protein hewani yang mudah diperoleh, relatif terjangkau, dan memiliki kandungan gizi baik. Bantuan ini diharapkan membantu memenuhi kebutuhan protein keluarga rentan, terutama untuk mencegah stunting.
"Telur adalah sumber protein hewani yang mudah didapat dan harganya relatif terjangkau. Kandungan gizinya sangat baik untuk membantu memenuhi kebutuhan protein keluarga," kata Heni dalam keterangan resmi yang diterima di Sawahlunto.
Selain untuk 108 keluarga rentan, sebagian bantuan telur juga disalurkan kepada 22 keluarga sasaran Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting) Tahun 2026. Bantuan lainnya diberikan kepada masyarakat yang memanfaatkan layanan UPTD Puskeswan Kelurahan Saringan sebagai bagian dari edukasi peningkatan konsumsi protein hewani.
Wakil Wali Kota Sawahlunto Jeffry Hibatullah menegaskan, pemerintah daerah terus memperkuat kolaborasi dengan dunia usaha. Sinergi ini diharapkan melengkapi program ketahanan pangan melalui intervensi berbasis data sehingga bantuan lebih tepat sasaran.
"Kami terus memperkuat kolaborasi dengan dunia usaha agar program CSR dapat mendukung prioritas pembangunan daerah, khususnya dalam memperluas akses masyarakat terhadap pangan bergizi," ujar Jeffry.
Program ini menjadi bagian dari upaya Pemerintah Kota Sawahlunto memperkuat ketahanan pangan. Pendekatan berbasis data kerentanan pangan memungkinkan pemerintah mengidentifikasi secara spesifik kelompok masyarakat yang paling membutuhkan intervensi gizi.
Dengan skema ini, bantuan pangan tidak lagi bersifat merata, tetapi terfokus pada keluarga yang benar-benar memiliki keterbatasan akses terhadap makanan bergizi. Kolaborasi dengan sektor swasta juga menjadi model yang terus dikembangkan untuk menjaga keberlanjutan program.