SUMATERA BARAT — Berdasarkan data TradingView, kurs rupiah terkoreksi signifikan di tengah sesi perdagangan hari ini. Level Rp 18.095 per dolar AS merupakan titik terlemah yang pernah dicatatkan dalam beberapa waktu terakhir, mengindikasikan tekanan berat pada fundamental nilai tukar.
Tekanan terhadap rupiah tidak berdiri sendiri. Hampir seluruh mata uang Asia terdepresiasi terhadap greenback pada hari ini. Namun, rupiah mencatat koreksi paling dalam, menjadikannya underperformer di kawasan.
Penguatan dolar AS didorong oleh data ekonomi Amerika yang lebih solid dari ekspektasi, serta sikap hawkish bank sentral AS (The Fed) yang masih membuka peluang kenaikan suku bunga lanjutan. Sentimen ini memicu aksi jual aset berisiko di negara berkembang, termasuk Indonesia.
Dari dalam negeri, investor masih mencermati ketidakpastian arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia (BI) di tengah kebutuhan menjaga stabilitas kurs. Di sisi lain, ekspektasi inflasi impor akibat pelemahan rupiah juga menjadi kekhawatiran pelaku pasar.
Analis menilai, kombinasi faktor eksternal dan internal ini menciptakan tekanan jual yang deras terhadap rupiah. "Pasar sedang risk-off. Dolar AS menjadi satu-satunya safe haven yang diminati, sementara rupiah tidak memiliki katalis positif yang cukup kuat untuk menahan laju pelemahan," ujar seorang analis pasar uang.
Tembusnya level psikologis Rp 18.000 per dolar AS menjadi sinyal bahaya bagi stabilitas nilai tukar. Level ini sebelumnya dianggap sebagai garis pertahanan terakhir oleh BI. Jika tekanan berlanjut, bukan tidak mungkin rupiah akan menguji level support berikutnya.
Pelaku pasar dan pelaku bisnis yang memiliki kewajiban dalam dolar AS disarankan untuk melakukan lindung nilai (hedging) guna mengantisipasi fluktuasi yang lebih ekstrem. Pergerakan rupiah selanjutnya akan sangat bergantung pada data inflasi AS pekan depan serta intervensi BI di pasar valas.