Tradisi Malamang Mauluik Gadang di Padang Pariaman Digelar Warga, Wujud Syukur Maulid Nabi dan Jaga Warisan Leluhur

Penulis: Hafizh Ramadhan  •  Rabu, 26 Agustus 2026 | 13:18:31 WIB
Warga Padang Pariaman membakar lamang dalam bambu pada tradisi Malamang Mauluik Gadang, Senin (24/8/2026).

Ratusan warga di Padang Pariaman, Sumatera Barat, kompak menyalakan api dan membakar lamang dalam bambu pada tradisi Malamang Mauluik Gadang, Senin (24/8/2026). Kegiatan ini bukan sekadar perayaan, melainkan wujud syukur atas kelahiran Nabi Muhammad SAW sekaligus upaya menjaga warisan leluhur agar tetap hidup di tengah generasi muda.

PADANG PARIAMAAN — Prosesi memasak lamang dengan cara membakar bambu di sepanjang jalan kampung menjadi pemandangan yang tak bisa dijumpai setiap hari. Malamang Mauluik Gadang yang digelar warga ini menyatukan tradisi, religi, dan semangat kebersamaan dalam satu momen tahunan.

Kegiatan yang berlangsung pada Senin (24/8/2026) tersebut diikuti warga dari berbagai kalangan usia. Anak-anak hingga orang tua tampak bergotong royong menyiapkan bambu berisi beras ketan dan santan sebelum dibakar di atas bara api.

Bukan Sekadar Memasak, Tapi Merawat Identitas

Malamang dalam tradisi Minangkabau bukanlah aktivitas dapur biasa. Proses memasak lamang dengan bambu ini menjadi ritual sosial yang mempererat tali silaturahmi antarwarga. Di Padang Pariaman, kegiatan ini dirangkai dengan peringatan Mauluik Gadang, sebuah perayaan besar yang telah mengakar kuat di masyarakat.

Lamang yang dimasak secara bersama-sama ini nantinya akan dinikmati bersama, sebagian lainnya dibagikan kepada kerabat dan tetangga. Kebersamaan inilah yang membuat tradisi ini terus bertahan dari generasi ke generasi.

Menjaga Warisan Leluhur di Tengah Arus Zaman

Di tengah gempuran budaya digital dan modernisasi, keberadaan tradisi Malamang menjadi penanda bahwa masyarakat Padang Pariaman tidak melupakan akar budayanya. Kegiatan ini juga menjadi sarana pendidikan informal bagi generasi muda untuk mengenal proses pembuatan lamang secara tradisional yang mulai jarang ditemui.

Dengan membakar lemang bambu secara bersama-sama, warga tidak hanya menyiapkan hidangan untuk perayaan Maulid Nabi. Lebih dari itu, mereka sedang menanamkan nilai gotong royong dan kecintaan terhadap budaya lokal kepada generasi penerus.

Kegiatan yang berlangsung meriah ini membuktikan bahwa tradisi leluhur masih memiliki tempat istimewa di hati masyarakat Sumatera Barat, khususnya di Padang Pariaman. Kehangatan api pembakaran lamang seolah menjadi simbol bahwa budaya lokal akan terus menyala dan tidak akan padam ditelan zaman.

Reporter: Hafizh Ramadhan
Sumber: sumbar.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top