PADANG — BMKG melaporkan sebanyak 2.461 titik panas terdeteksi di Pulau Sumatera melalui pemantauan satelit pada Rabu (26/8/2026). Sumatera Barat tercatat memiliki tujuh titik panas, jumlah yang relatif kecil dibandingkan provinsi tetangga seperti Riau yang mencapai 223 titik dan Jambi dengan 222 titik.
Berdasarkan data sebaran, Sumatera Selatan mendominasi dengan 1.522 titik panas, disusul Kepulauan Bangka Belitung 193 titik, Lampung 208 titik, dan Bengkulu 32 titik. Adapun Aceh hanya tiga titik, Sumatera Utara empat titik, dan Kepulauan Riau 47 titik.
BMKG mengingatkan bahwa titik panas merupakan indikator anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit. Keberadaannya tidak otomatis mengonfirmasi lokasi kebakaran yang telah terjadi di lapangan.
Di Provinsi Riau, sebaran titik panas paling banyak terkonsentrasi di Kabupaten Pelalawan dengan 91 titik. Disusul Indragiri Hilir 45 titik dan Bengkalis 35 titik.
Kabupaten Indragiri Hulu mencatat 17 titik, sementara Kampar dan Kuantan Singingi masing-masing delapan titik. Kepulauan Meranti tujuh titik, Kota Dumai lima titik, Rokan Hilir tiga titik, serta Rokan Hulu dan Siak masing-masing dua titik.
Di tengah kondisi kabut asap yang masih melanda sejumlah wilayah Riau, Tim Satuan Tugas (Satgas) Udara kembali menjalankan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) pada Rabu (26/8/2026). Sebanyak tiga ton garam atau natrium klorida (NaCl) disemai dalam tiga kali penerbangan.
Kepala Bidang Kedaruratan BPBD dan Pemadam Kebakaran Riau, Jim Gafur, mengatakan penyemaian garam dilakukan pada awan yang memenuhi persyaratan untuk mendukung proses pembentukan hujan di wilayah sasaran.
"OMC hari ini dilaksanakan tiga sortie penyemaian," kata Jim.
Penerbangan pertama menyasar Kabupaten Siak dan Bengkalis. Penerbangan kedua dilakukan di Pekanbaru, Siak, dan Kampar. Sementara penerbangan ketiga menyasar Kabupaten Pelalawan dan Indragiri Hilir.
"Sortie pertama menyasar Siak dan Bengkalis, sortie kedua Pekanbaru, Siak dan Kampar, kemudian sortie ketiga Pelalawan dan Indragiri Hilir," terang Jim.
Jim menjelaskan OMC menjadi salah satu langkah pendukung penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan meningkatkan peluang turunnya hujan di daerah sasaran penyemaian.
"OMC ini merupakan salah satu upaya untuk membantu penanganan karhutla, terutama dengan mendorong turunnya hujan di wilayah-wilayah yang menjadi sasaran penyemaian," ujarnya.
Operasi modifikasi cuaca ini berlangsung di tengah upaya pemadaman darat yang terus dilakukan tim gabungan di sejumlah kabupaten terdampak karhutla di Riau.