SUMATERA BARAT — Bill Gates memperingatkan bahwa gelombang kecerdasan buatan akan menghapus banyak pekerjaan secara permanen. Dalam esai berjudul "The turbulent AI era is here. The choices we make are critical", ia mengusulkan konsep human reserved—sebuah ranah khusus di setiap perusahaan yang dikhususkan untuk tenaga manusia.
Ia menganalogikan langkah ini dengan upaya perlindungan cagar alam. Sama seperti melindungi ekosistem dari pembangunan gedung atau jalan, perusahaan dinilai perlu melindungi profesi tertentu dari campur tangan AI dan robotika.
Gates merujuk pada pengalaman pribadinya saat mendiang ayahnya dirawat karena penyakit Alzheimer enam tahun lalu. Menurutnya, profesi seperti perawat dan dokter yang menyampaikan kabar buruk tidak bisa digantikan mesin.
"Bayangkan sebuah robot memberi Anda kabar buruk bahwa Anda menderita penyakit yang tidak dapat disembuhkan. Secara teknis, memang tidak ada alasan mengapa robot tidak bisa melakukannya. Tetapi tetap saja, itu tidak seharusnya dilakukan," tulis Gates dalam esainya yang dikutip The Guardian, Kamis (27/8).
Gates menilai kesiapan pemerintah global masih jauh dari cukup untuk menghadapi gejolak yang ditimbulkan AI. Ia membandingkan fenomena ini dengan perombakan sistem keamanan AS pasca-peristiwa 9/11, yang menurutnya membutuhkan upaya besar namun cakupannya jauh lebih sempit.
"AI akan membutuhkan upaya yang jauh, jauh lebih besar. Hal ini akan memengaruhi keamanan nasional serta lapangan kerja, pendidikan, perpajakan, energi, pemilu, udara dan air, kesehatan masyarakat, sistem keuangan, penegakan hukum, transportasi, lahan publik dan sistem TI," kata Gates.
Kekhawatiran lain yang diangkat Gates menyangkut dunia pendidikan. Ia menyebut alat yang sama yang bisa memperluas akses belajar justru berpotensi menumpulkan daya nalar generasi muda.
"Ironisnya, alat yang sama yang akan memungkinkan orang belajar lebih banyak hal dari sebelumnya, juga bisa menyebabkan banyak orang belajar lebih sedikit," jelas Bill Gates.
"Sebuah survei awal menunjukkan bahwa penggunaan AI yang lebih intensif dikaitkan dengan berkurangnya kemampuan berpikir kritis. Efek ini lebih kuat pada kaum muda," imbuhnya.
Sebagai langkah mitigasi, Gates mengungkapkan stafnya tengah mengatur pertemuan dengan Presiden China Xi Jinping pada November. Agenda utamanya adalah membahas kerja sama global untuk menekan risiko yang semakin meningkat dari perkembangan AI.
Usulan Gates ini muncul di tengah percepatan adopsi AI di Indonesia, khususnya di sektor layanan keuangan dan e-commerce, di mana otomatisasi berbasis AI mulai menggantikan peran layanan pelanggan dan analisis data tingkat dasar.