TANAH DATAR — Kursi Ketua KNPI Tanah Datar dianggap mulai kehilangan magnetnya. Mhd Nazwira Hidayat Dj, anggota muda PWI yang menulis opini soal dinamika ini, mengatakan fenomena sepinya kandidat tidak bisa dianggap persoalan biasa. Baginya, minimnya kader yang bersedia maju adalah bahan evaluasi serius bagi organisasi kepemudaan tersebut.
Ia mengingatkan, pada periode-periode sebelumnya posisi Ketua KNPI selalu ramai diperebutkan. Banyak figur muda ingin ambil bagian, ada persaingan gagasan, konsolidasi, hingga semangat membawa organisasi lebih baik. Kini, suasana terasa berbeda. Tidak banyak nama yang menyatakan siap memimpin.
Pertanyaan yang kemudian muncul di ruang publik sederhana: apakah KNPI masih dipandang relevan oleh generasi muda? Atau justru para kader mulai melirik wadah lain untuk menyalurkan gagasan, kreativitas, dan kepedulian mereka terhadap daerah? Mhd menilai pertanyaan semacam ini wajar dilontarkan, sebab organisasi yang sehat biasanya tidak kekurangan kader yang mau mengambil tanggung jawab kepemimpinan.
Dalam opini yang ditulisnya, Mhd mengajukan sejumlah pertanyaan yang layak dijawab terbuka oleh pengurus KNPI Tanah Datar. Pertama, apakah program yang dijalankan selama ini benar-benar menyentuh persoalan pemuda di daerah? Kedua, apakah komunikasi dengan organisasi kepemudaan lain sudah cukup intensif dibangun? Ketiga, mungkinkah daya tawar KNPI di mata generasi muda memang telah berubah seiring munculnya ruang-ruang baru bagi aktivitas pemuda?
Pertanyaan-pertanyaan itu muncul bukan untuk menyudutkan siapa pun, melainkan menjadi titik pijak untuk introspeksi bersama. Mhd khawatir, jika kondisi ini terus dibiarkan, KNPI hanya akan ramai saat musyawarah daerah digelar. Setelah ketua terpilih, aktivitas organisasi kembali tidak terdengar luas, sementara persoalan pemuda makin beragam dan butuh suara kolektif.
Lebih jauh, Mhd mengingatkan agar KNPI tidak dipersepsikan sebagai tempat mencari posisi atau membangun jejaring untuk kepentingan tertentu. Organisasi kepemudaan semestinya menjadi ruang pengabdian, bukan sekadar kendaraan menuju kepentingan lain. Meski tak ada yang salah jika kader kemudian berkiprah di politik atau pemerintahan, keterikatan yang terlalu kuat dengan kepentingan politik praktis justru dikhawatirkan menjauhkan ruh kepemudaan dari persoalan yang sesungguhnya.
Padahal, KNPI seharusnya tampil sebagai rumah besar bagi pemuda. Rumah yang memberikan