Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Kabupaten Agam, Sumatera Barat, resmi memulai pembangunan 80 unit hunian tetap (huntap) bagi korban bencana alam di Nagari III Koto Silungkang, Kecamatan Palembayan. Tahap awal proyek ini ditandai dengan penyerahan lokasi pekerjaan yang berlokasi di Balai Benih Ikan (BBI) Gumarang pada Rabu (2/9/2026) lalu.
LUBUKBASUNG — Proses pemulihan pascabencana hidrometeorologi yang melanda Kecamatan Palembayan akhir tahun 2025 memasuki babak baru di bidang infrastruktur. Sebanyak 80 unit rumah permanen mulai dibangun untuk menggantikan tempat tinggal warga yang rusak, menandai dimulainya tahap konstruksi yang telah lama dinantikan para penyintas.
Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Agam, Rinaldi, mengonfirmasi bahwa proyek ini tidak hanya sekadar menyediakan bangunan fisik. "Pembangunan huntap ini tidak hanya berkaitan dengan penyediaan rumah, tetapi juga merupakan bagian dari proses pemulihan masyarakat agar dapat kembali menjalani kehidupan secara aman dan layak," ujarnya di Lubukbasung, Kamis.
Tahap awal konstruksi secara administratif telah dikunci melalui kegiatan Mutual Check Awal (MC-0) dan penyerahan lokasi pekerjaan. Prosesi ini berlangsung di areal Balai Benih Ikan Gumarang, yang menjadi lokasi pembangunan 80 unit rumah tersebut.
Kegiatan tersebut dipimpin langsung oleh Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Rumah Susun dan Rumah Khusus Satker Penyediaan Perumahan dan Kawasan Permukiman Sumatera Barat, Ridho Ruzika. Kehadiran unsur Forum Komunikasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimca) Palembayan, perangkat nagari, tokoh masyarakat, hingga Direktur PT Dame Uli Jadiaman Indah sebagai kontraktor pelaksana, menunjukkan sinergi antarinstansi yang solid sejak dini.
Ridho Ruzika memberikan penekanan khusus mengenai standardisasi mutu kepada jajaran pelaksana di lapangan. Ia mengingatkan agar seluruh pekerjaan mengacu pada spesifikasi teknis yang telah ditetapkan dalam dokumen kontrak, bukan sekadar estimasi di lapangan.
"Koordinasi antara pemerintah, pelaksana, aparat keamanan, pemerintah nagari, dan masyarakat juga dinilai penting selama proses pembangunan," tegas Ridho dalam keterangannya. Langkah ini dinilai krusial untuk memastikan tidak ada kendala komunikasi yang dapat menghambat progres pengerjaan di lokasi yang sebelumnya merupakan lahan fasilitas umum tersebut.
Bencana yang menerjang kawasan Palembayan merusak sejumlah permukiman warga, memaksa mereka bertahan di tempat pengungsian atau hunian sementara sejak akhir tahun lalu. Kehadiran 80 unit rumah ini diharapkan menjadi fondasi baru bagi warga untuk membangun kembali kehidupan ekonominya.
Rinaldi mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama mengawal jalannya pembangunan. Ia berharap proyek yang dibiayai melalui mekanisme anggaran pemerintah ini dapat berjalan optimal, sesuai mutu dan waktu yang ditetapkan, sehingga masyarakat terdampak bisa segera menempati rumah layak huni dan kembali menjalankan aktivitas produktifnya seperti sediakala.