SUMATERA BARAT — Tekanan harga ini bukan siklus pasar biasa yang akan mereda dalam beberapa kuartal. Produsen memori global telah mengalihkan fokus produksi DRAM dan NAND ke chip HBM (High Bandwidth Memory) untuk pusat data kecerdasan buatan, yang menawarkan margin 3-5 kali lebih tinggi. Akibatnya, pasokan untuk elektronik konsumen menyusut drastis dan harga komponen melonjak hingga nyaris 300% dibanding tahun sebelumnya.
Data IDC menunjukkan harga jual rata-rata (ASP) smartphone global diproyeksikan naik 27,6% pada 2026, menembus rekor USD 581—sekitar Rp 10,3 juta. Ini bukan kenaikan temporer. Lembaga riset memperkirakan pabrik memori baru baru akan berproduksi penuh pada 2027, dan tekanan harga diprediksi berlanjut setidaknya hingga 2028.
Bahkan sejumlah eksekutif produsen memori memperingatkan ketimpangan pasokan bisa bertahan hingga melewati 2030. Senior Research Director for Worldwide Consumer Devices IDC, Nabila Popal, menegaskan struktur biaya baru ini permanen dan mengubah lanskap industri secara fundamental.
"Era smartphone ultramurah telah berakhir," ujar Popal.
Ketika biaya komponen membengkak, produsen menghadapi dua pilihan sulit: menaikkan harga atau menyesuaikan konfigurasi. Sepanjang 2026, keduanya terjadi bersamaan. Data IDC mencatat sejumlah flagship 2026 tetap bertahan di RAM 12GB, tidak naik ke 16GB, demi mengalihkan anggaran rekayasa ke aspek lain.
Di kelas menengah, Counterpoint Research menemukan produsen menyesuaikan kapasitas RAM dan penyimpanan sambil mempertahankan nama model yang sama—praktik yang membingungkan konsumen. Sebagian model dasar bahkan dipangkas memorinya ke 4GB DRAM agar harganya tetap terjangkau.
Penyesuaian tidak berhenti di memori. Senior Analyst Counterpoint Research, Shenghao Bai, menyebut perubahan juga menyentuh komponen lain. "Pada sejumlah model, kami melihat penurunan komponen seperti modul kamera," katanya. Hal serupa terjadi pada layar, komponen audio, dan konfigurasi memori.
Dengan realitas harga yang tidak akan kembali normal, menunda pembelian bukan solusi realistis. Yang lebih masuk akal adalah mengubah cara menilai sebuah ponsel. Alih-alih terpaku pada angka RAM atau chipset terbaru, perhatikan hal-hal berikut:
Praktik produsen yang mengurangi komponen tanpa mengubah nama model menjadi catatan penting. Sebelum membeli, konsumen perlu memastikan konfigurasi pasti dari unit yang akan dibeli—bukan mengandalkan ulasan model yang sama dari beberapa bulan lalu. Optimisasi perangkat lunak kini menjadi pembeda utama kualitas pengalaman pengguna, bukan sekadar spesifikasi mentah.
Di tengah guncangan rantai pasok yang digambarkan Vice President for Worldwide Client Devices IDC, Francisco Jeronimo, sebagai tsunami, konsumen yang cermat akan mendapatkan nilai terbaik. Sebaliknya, mereka yang masih terpaku pada angka spesifikasi berisiko membayar mahal untuk perangkat yang tidak akan bertahan lama.