Sinematografer "Angh" Bongkar Trik Syuting Adegan Malam di Nagaland

Penulis: Teuku Fahreza  •  Minggu, 13 September 2026 | 22:32:31 WIB
Sinematografer Adam Pietkiewicz bersiap menghadiri TIFF untuk menerima Variety TIFF Artisan Award.

SUMATERA BARAT — Adam Pietkiewicz sedang bersiap menuju Toronto International Film Festival (TIFF) untuk menerima penghargaan Variety TIFF Artisan Award. Penghargaan ini diberikan atas kerja sinematografinya dalam film "Angh", sebuah proyek yang membawanya menjelajahi wilayah terpencil di India timur laut.

Beberapa hari terakhir, Pietkiewicz menghabiskan waktu berlayar di Laut Baltik bersama kru. Mereka baru saja bersandar di sebuah lokasi tak diungkap di Polandia timur laut. Koneksi internet yang buruk sempat menyulitkan komunikasi, namun ia tetap antusias menyambut puncak kariernya ini.

Meski telah menggarap sejumlah film pendek, "Angh" menandai baru film panjang keduanya. Pencapaian ini terasa istimewa karena ia akan berdiri sejajar dengan sineas-sineas yang ia kagumi.

Kolaborasi Lama dan Keputusan Format 16mm

Film "Angh" disutradarai oleh Theja Rio, rekannya sejak masa sekolah film. Ketika Rio menyatakan niatnya mengembangkan film pendek berjudul sama menjadi fitur panjang, Pietkiewicz langsung menyanggupi.

Rio bersikeras menggunakan format film 16mm untuk menangkap tekstur lingkungan cerita yang keras dan mentah. Pietkiewicz memakai kamera Arri berpadu lensa Ultra Prime, serta stok film Kodak VISION3 250D dan VISION3 500T.

"Kami berdua tahu format ini ide bagus untuk cerita semacam ini. Format ini mereproduksi warna dengan sempurna dan menambah kesan grain pada film," ujar Pietkiewicz.

Keputusan tersebut bukan tanpa alasan estetis semata. Format 16mm memberi karakter visual yang sulit ditiru kamera digital modern, terutama untuk cerita periode 1960-an.

Tantangan Listrik dan Adegan Bakar Desa

Nagaland saat itu tidak memiliki pasokan listrik yang andal. Kondisi ini membuat pengambilan gambar malam hari menjadi mimpi buruk teknis bagi Pietkiewicz.

Cahaya api unggun biasa tidak cukup memberi eksposur pada light meter saat pengujian. Ia kemudian bereksperimen dengan Anghlong Konyak, aktor yang memerankan kepala desa.

"Kami membuat obor api terpisah, dan di atasnya kami oleskan cairan mudah terbakar khusus. Berkat itu, kami bisa mendapat eksposur cukup pada wajah mereka," jelasnya.

Adegan pembakaran desa menjadi salah satu momen paling menantang. Seluruh adegan itu direkam sepenuhnya in-camera tanpa VFX atau CGI.

Meski pendekatannya minimalis di depan kamera, Pietkiewicz dan Rio menyusun panduan produksi yang sangat detail. Mereka menyebutnya "Book of Angh", merancang setiap adegan sebelum pengambilan gambar.

Makna Penghargaan bagi Nagaland

Pietkiewicz menegaskan penghargaan ini bukan hanya miliknya pribadi. Ia mendedikasikannya untuk masyarakat wilayah Nagaland di India.

"Mereka layak dilihat dan didengar karena wilayah ini kurang dikenal di seluruh dunia," katanya.

Film "Angh" mengikuti keluarga kecil Konyak Naga pada 1960-an. Mereka adalah penghuni terakhir desa yang telah ditinggalkan di negara bagian pegunungan Nagaland. Kedatangan misionaris Kristen dari Amerika Serikat menguji pengabdian mereka pada budaya tradisional.

Pietkiewicz berharap kehadiran film ini di TIFF membuka mata penonton internasional tentang kekayaan budaya Naga yang jarang tersorot layar lebar.

Reporter: Teuku Fahreza
Sumber: variety.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top