SUMATERA BARAT — Setelah bertahun-tahun menjadi garda terdepan dalam pengamatan fenomena kosmik paling ekstrem, Teleskop Antariksa Swift milik NASA kini menghadapi akhir perjalanannya. Badan antariksa AS itu mengonfirmasi bahwa semua rencana penyelamatan telah dihentikan, membuat instrumen senilai ratusan juta dolar tersebut dipastikan akan hancur saat memasuki atmosfer Bumi.
Keputusan ini bukan diambil secara tiba-tiba. Berbagai masalah teknis yang terus menumpuk pada sistem propulsi dan kendali sikap teleskop membuat manuver orbit untuk menyelamatkannya mustahil dilakukan. Tanpa kemampuan untuk mendorong dirinya ke orbit yang lebih tinggi, gravitasi Bumi perlahan menarik Swift kembali ke bawah.
Mengapa NASA Menyerah Menyelamatkan Swift?
Masalah utama terletak pada sistem pendorong (thruster) teleskop yang sudah tidak responsif. Padahal, sistem ini sangat krusial untuk menjaga posisi Swift tetap stabil sekaligus mengatur ketinggian orbitnya. Kegagalan pada komponen ini secara efektif menghilangkan satu-satunya cara untuk menyelamatkan misi.
Tanpa kemampuan manuver, para insinyur di pusat kendali NASA tidak bisa melakukan apa pun untuk mengubah lintasan jatuhnya. Proses penurunan orbit memang berjalan lambat, tetapi sudah memasuki titik tanpa jalan kembali. Estimasi dari badan antariksa menyebutkan, Swift akan memasuki lapisan atmosfer yang lebih padat dan terbakar pada akhir tahun ini.
Meski begitu, para ilmuwan memastikan tidak ada risiko bagi penduduk di permukaan Bumi. Hampir seluruh struktur teleskop dirancang untuk hancur total saat bergesekan dengan atmosfer, menyisakan hanya sedikit puing yang kemungkinan besar akan jatuh di samudra atau kawasan tak berpenghuni.
Warisan Ilmiah yang Tak Tergantikan
Swift bukanlah teleskop sembarangan. Sejak diluncurkan pada November 2004, observatorium ini menjadi andalan utama NASA untuk mendeteksi semburan sinar gamma (gamma-ray burst/GRB) — ledakan paling energik di alam semesta yang terjadi saat bintang masif runtuh atau dua bintang neutron bertabrakan.
Kecepatan Swift dalam merespons dan mengarahkan teleskopnya ke sumber ledakan memungkinkan para astronom menangkap data "setelah cahaya" (afterglow) dari GRB hanya dalam hitungan menit. Kemampuan unik ini tidak dimiliki oleh teleskop luar angkasa lainnya seperti Hubble atau James Webb.
Selama dua dekade beroperasi, Swift telah menghasilkan lebih dari 1.500 publikasi ilmiah dan mengubah pemahaman manusia tentang lubang hitam serta kelahiran alam semesta. Data yang telah dikumpulkannya selama ini akan terus dianalisis oleh para peneliti di seluruh dunia, termasuk Indonesia, untuk bertahun-tahun ke depan.
Apa yang Hilang dan Apa yang Menggantikannya?
Kehilangan Swift meninggalkan celah besar dalam jaringan observatorium luar angkasa global. Saat ini, tidak ada teleskop yang memiliki gabungan kemampuan deteksi cepat dan sensitivitas tinggi seperti yang dimiliki Swift untuk memantau fenomena sementara (transient) di langit.
Beberapa misi baru seperti Einstein Probe yang diluncurkan Tiongkok dan teleskop luar angkasa X-ray lainnya memang mulai beroperasi, tetapi belum ada yang sepenuhnya meniru peran Swift. Para astronom kini harus mengandalkan kombinasi beberapa instrumen berbeda untuk menutupi kekosongan tersebut.
Bagi komunitas astronomi global, kepergian Swift bukan sekadar kehilangan satu satelit. Ini adalah akhir dari sebuah era di mana respons cepat terhadap ledakan kosmik menjadi standar baru dalam astrofisika. Sampai misi pengganti dengan kemampuan serupa diluncurkan, pengamatan GRB di alam semesta dipastikan akan kehilangan mata paling tajamnya.