Sanggar Seni Sinar Tampalo dari Kabupaten Sijunjung menampilkan Tari Ratok Mayik ka Turun pada hari keempat Pekan Kebudayaan Daerah Saraso Fest 2026 di Taman Budaya Sumatera Barat, Padang. Tarian tradisi duka dari Nagari Padang Laweh itu dibawakan sebagai bagian dari lima atraksi kesenian sanggar pada Kamis malam. Pementasannya berlangsung khidmat dengan iringan ratapan pilu, ketukan tambur, dan tabuhan talempong.
PADANG — Panggung Saraso Fest 2026 di Taman Budaya Sumatera Barat kembali menampilkan kesenian tradisi pada hari keempat. Sanggar Seni Sinar Tampalo dari Kabupaten Sijunjung membawakan Tari Ratok Mayik ka Turun, satu dari lima atraksi yang disiapkan sanggar tersebut.
Kepala Seksi Produksi dan Kreasi Seni Budaya UPTD Taman Budaya Sumatera Barat, Ade Efdira, menyebut penampilan itu sebagai bagian dari rangkaian pertunjukan malam. "Malam ini kita menampilkan lima atraksi kesenian, salah satunya adalah Tari Ratok Mayik ka Turun dari Sanggar Seni Sinar Tampalo Sijunjung," kata Ade di Padang, Kamis.
Warisan Ritual Duka dari Nagari Padang Laweh
Tari Ratok Mayik ka Turun bukan pertunjukan tari biasa. Ade menjelaskan tarian ini merupakan tradisi duka yang berasal dari Nagari Padang Laweh, Kabupaten Sijunjung.
"Tarian ini merupakan tradisi duka dari Nagari Padang Laweh yang ditampilkan di rumah duka saat seorang Datuak (pemimpin kaum) meninggal dunia," ujar Ade.
Dalam tradisi adat Minangkabau, Datuak adalah pemimpin kaum yang posisinya dihormati. Ketika seorang Datuak berpulang, masyarakat adat menggelar ritual penghormatan, dan Tari Ratok Mayik ka Turun menjadi salah satu bentuk ekspresinya.
Ratapan, Tambur, dan Talempong yang Membangun Suasana Duka
Pementasan tari tradisi duka tersebut berlangsung khidmat karena diperkuat oleh berbagai unsur magis dan emosional. Iringan ratapan pilu berpadu dengan ketukan tambur serta tabuhan talempong.
Perpaduan instrumen itu menghadirkan suasana duka mendalam. Bunyi-bunyian tersebut sekaligus menggambarkan rasa kehilangan masyarakat adat atas berpulangnya sang pemimpin suku.
Bagi penonton Saraso Fest, penampilan ini memberi gambaran bahwa kesenian tradisional Minangkabau tidak selalu bersifat hiburan. Sebagian di antaranya lahir dari ritual yang sarat nilai penghormatan adat.
Panggung Hari Keempat Juga Diisi Babiola dan Tari Babuai
Selain penampilan dari Kabupaten Sijunjung, panggung Saraso Fest hari keempat dimeriahkan oleh atraksi kesenian dari daerah lain. Tradisi Babiola dan Tari Babuai dari Pesisir Selatan turut ditampilkan, bersama pertunjukan seni dari pelajar setempat.
Kombinasi penampilan dari berbagai kabupaten itu memperlihatkan keragaman tradisi Sumatera Barat dalam satu panggung. Penonton bisa menyaksikan kesenian dari kawasan Sijunjung hingga Pesisir Selatan dalam satu malam.
Saraso Fest sebagai Ruang Pelestarian Tradisi
Pekan Kebudayaan Daerah Saraso Fest diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat. Festival ini dirancang sebagai wadah pelestarian tradisi sekaligus perlindungan kebudayaan daerah.
Selain itu, Saraso Fest menjadi ruang pengembangan bagi Manajemen Talenta Nasional (MTN) di bidang seni budaya. Sanggar-sanggar daerah mendapat panggung untuk menampilkan karya yang jarang muncul di acara hiburan umum.
Penampilan Tari Ratok Mayik ka Turun menjadi salah satu contoh bagaimana tradisi ritual duka tetap dijaga dan diperkenalkan ke publik yang lebih luas. Sanggar Seni Sinar Tampalo dari Sijunjung membawa warisan Nagari Padang Laweh ke panggung ibu kota provinsi.