SUMATERA BARAT — PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM) kembali menunjukkan performa impresif di tengah ketidakpastian ekonomi global. Sepanjang Januari–Juni 2026, emiten pelat merah ini mengantongi laba bersih Rp6,91 triliun, melonjak signifikan dibandingkan realisasi semester I-2025 yang tercatat Rp5,14 triliun.
Direktur Utama ANTAM, Untung Budiharto, menyebut pencapaian ini merupakan buah dari penguatan kinerja operasional dan disiplin keuangan yang konsisten. "Pencapaian ini menjadi landasan bagi ANTAM untuk terus meningkatkan kinerja melalui penguatan beyond operational excellence, sehingga perusahaan dapat semakin unggul, adaptif, dan mampu menciptakan pertumbuhan yang berkelanjutan," ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (26/8).
Segmen emas masih menjadi tulang punggung pendapatan perseroan dengan kontribusi mencapai 80% dari total penjualan. Nilai penjualan emas sepanjang semester I-2026 mencapai Rp50,39 triliun dengan volume terjual 18.080 kilogram atau setara 581.286 troy ons.
Di sisi lain, segmen nikel—yang mencakup feronikel dan bijih nikel—mencatatkan pertumbuhan paling tajam sebesar 32% secara tahunan, menyumbang Rp10,41 triliun. Segmen bauksit dan alumina juga ikut menggerakkan pendapatan dengan kontribusi Rp1,88 triliun, naik 28% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Kinerja keuangan ANTAM tidak hanya berhenti pada perolehan laba. Perseroan mencatatkan posisi kas dan setara kas yang solid mencapai Rp9,23 triliun. Total aset perusahaan pun tumbuh 27% menjadi Rp61,27 triliun dibandingkan posisi akhir semester I-2025.
Efisiensi operasional juga terlihat dari pertumbuhan EBITDA yang naik 35% menjadi Rp9,62 triliun. Angka ini mengindikasikan kemampuan perseroan dalam mengelola biaya secara ketat di tengah tekanan harga energi dan logistik.
Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko ANTAM, Arini Kasmira, menegaskan fokus perusahaan saat ini adalah memastikan profitabilitas yang diraih dapat dikonversikan menjadi arus kas yang sehat. "Didukung posisi likuiditas yang tetap terjaga dan portofolio komoditas yang terdiversifikasi, ANTAM memasuki paruh kedua 2026 dengan fundamental yang kokoh untuk memenuhi kebutuhan operasional dan agenda pertumbuhan jangka panjang," tegas Arini.
Dengan perolehan laba bersih per saham dasar yang naik ke level Rp265,85, para pemegang saham ANTM memiliki alasan kuat untuk tetap optimistis. Diversifikasi portofolio komoditas—dari emas, nikel, hingga bauksit—menjadi tameng perseroan menghadapi gejolak harga internasional.
Ke depan, ANTAM diproyeksikan terus memanfaatkan momentum permintaan emas yang kuat di dalam negeri serta meningkatnya kebutuhan nikel untuk ekosistem baterai kendaraan listrik. Dengan struktur keuangan yang makin kokoh, perseroan berada di posisi yang lebih siap untuk mengeksekusi agenda ekspansi jangka panjangnya.