Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Andalas (Unand) mengembangkan model peternakan sirkular di Kanagarian Gaduik, Kecamatan Tilatang Kamang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, melalui inovasi pakan dan pengolahan feses ternak menjadi pupuk organik. Program Kemitraan Masyarakat Daerah Binaan (PKM-DB) Batch III ini diketuai Prof. Indri Juliyarsi bersama tiga anggota tim dan empat mahasiswa, bermitra dengan Pemerintah Nagari Gaduik serta GAPOKTAN Gaduik Nan Limo Sakato. Rangkaian kegiatan berlangsung sejak Juli 2026 dan dijadwalkan tuntas Desember 2026.
LUBUK BASUNG — Kegiatan diawali koordinasi dan Focus Group Discussion bersama Wali Nagari serta pemerintah daerah pada 30 Juli 2026. Forum tersebut menjadi tahap identifikasi kebutuhan masyarakat sekaligus menyelaraskan teknologi yang dikembangkan dengan kondisi peternakan di Gaduik.
Tim pelaksana terdiri dari Prof. Indri Juliyarsi sebagai ketua, dengan anggota Prof. Mardiati Zain, Prof. Yusniwati, dan Prof. Sri Melia. Program berjalan berdasarkan kontrak Nomor 40/UN16.19/PM.03.03/PKM-DB/2026.
Pada 15 Agustus 2026, GAPOKTAN melakukan kunjungan ke bengkel untuk memastikan kesiapan mesin pengolah pupuk organik. Langkah itu bagian dari persiapan teknologi sebelum peralatan diterjunkan ke lokasi mitra.
Dua pekan berselang, tepatnya 29 Agustus 2026, tim memberi penyuluhan kepada peternak soal penyusunan formulasi ransum. Materi diarahkan agar peternak mampu menyusun pakan dari bahan baku lokal di sekitar wilayah peternakan.
Di waktu yang sama, GAPOKTAN menerima penyuluhan teknologi pengolahan pupuk organik. Feses sapi yang selama ini menjadi limbah diarahkan menjadi pupuk bernilai guna sekaligus mendukung pengelolaan lingkungan dan kegiatan pertanian warga.
Penerapan teknologi masuk tahap berikutnya pada 20 September 2026 melalui pengantaran dan uji coba mesin pengolah pupuk organik. Tim bersama masyarakat dan anggota GAPOKTAN menguji peralatan tersebut untuk memperkenalkan proses pengolahan bahan organik yang lebih efisien.
Teknologi yang diperkenalkan mencakup pengumpulan feses ternak, pencacahan bahan, pencampuran bioaktivator, fermentasi, pengayakan, hingga pengemasan. Keberadaan mesin itu juga memperkuat Unit Pengelolaan Pupuk GAPOKTAN Gaduik Nan Limo Sakato.
Program tidak berhenti pada pengolahan limbah. Tim mengintegrasikan formulasi pakan, pengolahan pupuk organik, budidaya hijauan pakan, pengemasan produk, pemasaran, dan penguatan kelembagaan masyarakat dalam satu sistem peternakan sirkular.
Pendekatan yang dipakai adalah Participatory Rural Appraisal dipadukan Transfer of Technology dan pendampingan partisipatif. Masyarakat ditempatkan sebagai bagian aktif program, mulai dari identifikasi masalah, penyusunan solusi, penerapan teknologi, hingga evaluasi.
Aspek ekonomi juga masuk melalui pengembangan Unit Pengelolaan Pupuk milik GAPOKTAN. Pengolahan feses ternak diharapkan tidak hanya mengatasi persoalan limbah, tetapi juga menghasilkan pupuk organik yang bisa dikembangkan sebagai produk bernilai ekonomi.
Program akan berlanjut hingga Desember 2026. Tahapan berikutnya mencakup pendampingan operasional mesin, produksi pupuk organik, standardisasi dan pengemasan produk, penerapan formulasi pakan, demonstration plot, penguatan administrasi usaha, pengembangan jejaring pemasaran, serta monitoring dan evaluasi.
Melalui rangkaian itu, PKM-DB Universitas Andalas diarahkan membangun model peternakan yang menghubungkan sumber daya lokal dalam satu siklus produksi. Mulai dari pakan, ternak, feses, pengolahan pupuk, hingga pemanfaatannya kembali.
Model tersebut diharapkan menjadi percontohan peternakan sirkular yang dapat dikembangkan dan direplikasi di tingkat nagari lain.