SUMATERA BARAT — Bahlil Lahadalia resmi dilantik sebagai Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi di Istana Negara, Jakarta, Kamis (1/10/2026), merangkap Menteri ESDM. Dari LHKPN yang disampaikan 31 Maret 2026, total kekayaannya Rp 344.415.518.982, tetapi garasinya hanya berisi dua mobil berumur di atas 10 tahun senilai total Rp 75.276.200. Perpaduan jabatan menteri koordinator dan menteri teknis ini menempatkan Bahlil sebagai salah satu pejabat dengan portofolio terluas di Kabinet Merah Putih.
Pelantikan Bahlil Lahadalia sebagai Menko Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi menandai beroperasinya nomenklatur baru dalam Kabinet Merah Putih. Posisi menteri koordinator diisi bersamaan dengan jabatannya sebagai Menteri ESDM, sementara Kementerian Investasi dan Hilirisasi berada di bawah koordinasi kemenko baru tersebut.
Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) yang disampaikan pada 31 Maret 2026 mencatat hanya dua unit kendaraan atas nama Bahlil. Keduanya berusia di atas 10 tahun dan diperoleh dari hasil sendiri.
Total nilai kendaraan tersebut Rp 75.276.200. Tidak ada kendaraan lain yang dicantumkan dalam laporan kekayaan Bahlil, yang secara keseluruhan mencapai Rp 344.415.518.982.
Bahlil menyebut penugasan ganda ini sebagai amanah negara. Menurut dia, kebijakan tersebut berkaitan dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan hilirisasi dan transisi energi sebagai prioritas. Kedua sektor itu perlu dikonsolidasikan lewat kemenko agar pelaksanaannya lebih cepat.
"Saya dilantik sebagai Menko Hilirisasi dan Transisi Energi, sekaligus merangkap jadi Menteri ESDM. Saya tahu ini adalah amanah, tanggung jawab negara yang saya harus emban," ujar Bahlil usai pelantikan, dilansir detikFinance.
Kegiatan operasional Kementerian Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi untuk sementara berpusat di Kementerian ESDM. Bahlil menjelaskan keputusan itu diambil karena porsi investasi hilirisasi yang besar berada di sektor ESDM.
Dalam struktur yang dijelaskan Bahlil, kemenko bertugas melakukan koordinasi, sedangkan kementerian teknis menjalankan program secara langsung. Kementerian Investasi dan Hilirisasi masuk dalam koordinasi kemenko baru tersebut.
"Alasannya, kalau Menko kan Kemenko aja, Menteri Koordinator. Sementara Menteri Investasi dan Hilirisasi kan dia menteri teknis. Jadi, kementeriannya, Kementerian Investasi dan Hilirisasi itu di dalam koordinasi Kemenko. Itu aja kok, biasa ya," terang Bahlil.