Sanggar Seni 2 Limbago SMA 1 Pariangan Pukau Saraso Fest 2026 dengan Teatrikal Isak Tangih Galodo

Penulis: Hafizh Ramadhan  •  Sabtu, 03 Oktober 2026 | 21:40:32 WIB
Sanggar Seni 2 Limbago SMA Negeri 1 Pariangan menampilkan teatrikal "Isak Tangih Galodo" di panggung terbuka Taman Budaya Sumatera Barat, Padang.

Sanggar Seni 2 Limbago dari SMA Negeri 1 Pariangan tampil memukau di panggung terbuka Taman Budaya Sumatera Barat, Kota Padang, lewat teatrikal "Isak Tangih Galodo" pada Pekan Kebudayaan Daerah Saraso Fest 2026. Pertunjukan bertema kebencanaan itu tetap digelar totalitas meski hujan lebat mengguyur sepanjang malam, dan berhasil menghadirkan katarsis mendalam bagi ratusan penonton yang bertahan dengan payung dan jas hujan.

PADANG — Kepala UPTD Taman Budaya Sumatera Barat M. Devid menyatakan kehadiran sanggar asal Kabupaten Tanah Datar itu di panggung utama merupakan buah konsistensi mereka dalam wadah pembinaan kesenian daerah. Menurut dia, Taman Budaya sengaja membuka ruang seluas-luasnya bagi talenta muda dan komunitas seni berbasis sekolah.

Pementasan ini menjadi bagian dari rangkaian Pekan Kebudayaan Daerah Saraso Fest 2026 yang berlangsung 28 September hingga 3 Oktober 2026 di Kompleks Taman Budaya Sumatera Barat. Acara tahunan tersebut digelar sekaligus memeriahkan Hari Jadi ke-81 Provinsi Sumatera Barat.

Dari Skola Arr Fet ke Panggung Utama Provinsi

Devid menjelaskan, kesempatan tampil di festival tingkat provinsi itu diperoleh setelah Sanggar Seni 2 Limbago melewati penyaringan lewat ajang Skola Arr Fet. Proses seleksi tersebut menjadi pintu masuk bagi kelompok seni pelajar untuk unjuk kemampuan di hadapan publik yang lebih luas.

"Kehadiran Sanggar Seni 2 Limbago SMA 1 Pariangan di panggung utama Saraso Fest 2026 merupakan buah dari konsistensi mereka dalam wadah pembinaan kesenian daerah," kata M. Devid di Padang, Jumat.

Ia menambahkan, pembinaan kesenian berbasis sekolah menjadi salah satu cara merawat ingatan kolektif masyarakat melalui medium seni pertunjukan. Talenta muda dinilai punya peran penting dalam menjaga ekspresi kultural tetap hidup.

Mengangkat Memori Kelam Banjir Bandang Tanah Datar

Karya teatrikal "Isak Tangih Galodo" diangkat langsung dari memori musibah banjir bandang yang pernah menerjang wilayah Kabupaten Tanah Datar. Peristiwa itu meninggalkan luka mendalam bagi warga setempat, terutama mereka yang kehilangan anggota keluarga dan tempat tinggal.

Lewat perpaduan ekspresi gerak tari teaterikal, lantunan ratapan emosional tokoh Bundo dan Sity, serta penataan musik tradisi yang dinamis, karya tersebut menggambarkan pilunya rasa kehilangan sekaligus ketangguhan masyarakat menghadapi bencana. Para aktor, penari, dan pemusik tampil tanpa menyurutkan energi meski panggung basah oleh hujan.

"Tampil di bawah guyuran hujan justru melahirkan atmosfer magis yang menyatu dengan tema air dan bencana yang mereka bawakan," tambah Devid.

Katarsis di Tengah Guyuran Hujan

Ratusan pengunjung bertahan menyaksikan pertunjukan hingga selesai. Sebagian di antara mereka mengenakan payung dan jas hujan, membentuk pemandangan yang menyatu dengan suasana pertunjukan bertema air tersebut.

Penampilan dramatis itu dinilai berhasil menyajikan katarsis mendalam bagi para penonton. Tema kebencanaan yang diangkat dari pengalaman nyata warga Tanah Datar membuat pertunjukan tidak sekadar tontonan, tetapi juga ruang refleksi kolektif.

Manajemen Talenta Nasional dan Estafet Nilai Lokal

Pementasan ini mempertegas komitmen Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat melalui program Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya. Program itu diarahkan untuk memastikan nilai-nilai lokal dan ekspresi kultural otentik terus hidup serta diestafetkan kepada generasi muda di tengah era modernisasi.

Saraso Fest 2026 mengusung tema "Menghidupkan Rasa, Menajamkan Makna, Mengasah Talenta Muda". Festival ini menjadi ruang bagi komunitas seni daerah, termasuk kelompok pelajar, untuk menampilkan karya di hadapan penonton lintas kabupaten dan kota.

Reporter: Hafizh Ramadhan
Sumber: sumbar.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top