SUMATERA BARAT — Tim peneliti Poltekkes Kemenkes Denpasar memperkenalkan pijat Tuina sebagai terapi komplementer untuk mempercepat penurunan stunting pada balita. Metode ini dipadukan dengan edukasi gizi dan latihan psikomotorik, menyasar empat desa lokasi khusus stunting di Bali.
Penanganan stunting di Indonesia masih sering dipersepsikan sebatas soal tinggi badan anak yang kurang dari standar. Padahal, ada banyak faktor lain yang berperan, termasuk kemampuan anak menerima dan mengonsumsi makanan dengan baik.
Dr. I Wayan Juniarsana, SST, M.Fis., Ketua Tim Peneliti Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Denpasar, menyoroti hal ini dalam penelitian terbarunya. Menurutnya, pemberian makanan tambahan (PMT) saja tidak cukup jika anak menolak makan.
Juniarsana menjelaskan bahwa PMT bernilai gizi tinggi belum tentu dikonsumsi oleh anak yang menjadi sasaran. Bahkan, tidak jarang makanan tersebut justru dimakan oleh anggota keluarga lain.
"Padahal, PMT yang diberikan belum tentu dikonsumsi oleh sasaran. Bahkan, bisa saja makanan tersebut dikonsumsi oleh anggota keluarga lainnya," ujar Juniarsana saat ditemui di Denpasar, Sabtu 03 Oktober 2026.
Persoalan nafsu makan menjadi kunci yang perlu diperhatikan pada anak dengan masalah pertumbuhan. Karena itu, pemberian makanan tambahan perlu diikuti dengan upaya mendukung kemampuan anak menerima makanan dengan baik.
Pijat Tuina diadaptasi dari pengobatan tradisional China. Metode ini dilakukan melalui stimulasi pada titik-titik tertentu di tubuh anak untuk merangsang berbagai fungsi tubuh.
"Pijat Tuina merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan selera makan, menstimulasi pertumbuhan, serta mencegah dan meredakan gejala penyakit pada anak," kata Juniarsana.
Stimulasi ini diharapkan membantu mengatasi kesulitan makan. Dengan begitu, anak yang mengalami masalah pertumbuhan bisa memperoleh asupan makanan secara lebih optimal.
Tim peneliti Poltekkes Kemenkes Denpasar mengembangkan Model Integrasi Ginalatrik. Model ini menggabungkan tiga pendekatan sekaligus: edukasi gizi, pijat Tuina, dan latihan psikomotorik.
Penelitian ini merupakan bagian dari Penelitian Unggulan Perguruan Tinggi (PUPT) Poltekkes Kemenkes Denpasar. Tujuannya mempercepat penurunan stunting dan gizi kurang pada anak balita di Provinsi Bali.
Pengenalan metode ini dilakukan melalui penyegaran kader Posyandu selama lebih dari sebulan. Kegiatan berlangsung di empat desa yang menjadi lokasi khusus stunting.
Penyegaran kader menjadi tahapan penting dalam penelitian ini. Selain itu, kegiatan ini meningkatkan kapasitas kader Posyandu dalam menangani persoalan gizi di masyarakat.
Kader Posyandu berada di garis depan pemantauan tumbuh kembang anak di tingkat desa. Mereka yang paling dekat dengan keluarga dan bisa mendeteksi masalah gizi sejak awal.
Dengan pelatihan pijat Tuina, kader memiliki keterampilan tambahan untuk mendampingi orang tua. Mereka bisa mengajarkan teknik stimulasi ini kepada ibu yang anaknya mengalami kesulitan makan.
Pijat Tuina untuk anak sebaiknya dilakukan oleh tenaga terlatih atau kader yang sudah mendapat pelatihan khusus. Jangan sembarangan memijat anak tanpa panduan yang benar.
Konsultasikan dulu dengan dokter atau ahli gizi jika anak menunjukkan tanda stunting. Pijat Tuina adalah terapi komplementer, bukan pengganti intervensi gizi dan pemeriksaan medis.
Penanganan stunting butuh pendekatan menyeluruh. Kombinasi edukasi gizi, stimulasi pertumbuhan, dan dukungan keluarga menjadi kunci agar anak bisa tumbuh optimal.