BYD Racco Mulai Dijual di Luar Jepang, Indonesia Masih Tahap Riset

Penulis: Faisal Hasbi  •  Rabu, 07 Oktober 2026 | 15:03:01 WIB
BYD Racco resmi dipasarkan di Macau dan Sri Lanka sebagai pasar setir kanan pertama di luar Jepang.

SUMATERA BARAT — BYD Racco, kei car listrik yang dipasarkan di Jepang sejak Juli 2026, resmi menyasar pasar setir kanan di luar Jepang dengan Macau dan Sri Lanka sebagai pembuka. Untuk Indonesia, BYD belum bicara harga atau jadwal peluncuran karena masih mempelajari respons pasar lewat riset internal. Mobil mungil ini sudah mengantongi 1.002 pesanan hanya dalam dua pekan di Jepang, angka yang jarang dicapai kendaraan listrik sekelasnya.

Pembukaan pemesanan di Macau dan peluncuran di Sri Lanka pada 9 Oktober menandai langkah pertama BYD Racco keluar dari Jepang. Dua negara itu dipilih karena sama-sama memakai setir kanan, sesuai konfigurasi Racco yang dikembangkan untuk pasar Jepang.

BYD Indonesia ikut memanaskan rumor lewat unggahan di media sosial resminya. Head of PR & Government BYD Indonesia Luther Panjaitan menyebut pihaknya belum memutuskan apa pun soal penjualan Racco di Tanah Air.

"Ya kita masih tahap mencoba mengidentifikasi, mempelajari market-nya. Karena sebetulnya kan tipe kendaraan ini (Racco) tuh favoritnya di negara lain. Jadi melalui koneksi komunikasi langsung dengan pemilik melalui sosial media, kita mau tahu feedback dari market bagaimana," kata Luther di Subang, Jawa Barat, Kamis (3/9/2026).

Racco Dipesan 1.002 Unit dalam Dua Pekan di Jepang

Sejak dipasarkan di Jepang pada Juli 2026, Racco langsung mencatat 1.002 pemesanan dalam dua pekan. BYD memasang target 10 ribu pesanan sampai akhir 2026.

Posisi Racco di Jepang jelas: melawan kei car yang sudah lama menguasai jalanan kota. Ukurannya dibuat pas untuk celah itu, dengan panjang 3.395 mm, lebar 1.475 mm, dan tinggi 1.800 mm. Wheelbase-nya 2.520 mm.

Kabinnya menampung empat penumpang, dengan bagasi 280 liter. Untuk kei car listrik, angka bagasi itu termasuk lega karena baterai tidak banyak memakan ruang kabin.

Dua Pilihan Baterai LFP, Jarak Tempuh 210-320 Km

BYD menyediakan dua paket baterai LFP: 22,4 kWh dan 35,84 kWh. Motor listriknya menghasilkan tenaga maksimum 47 kW atau sekitar 63 hp, dengan torsi 160 Nm.

Jarak tempuhnya bergantung pada kapasitas baterai yang dipilih, yakni 210 km sampai 320 km. Untuk pemakaian dalam kota, varian terkecil pun masih masuk akal sebagai mobil harian.

Soal pengisian daya, varian 200 mendukung DC charging sampai 35,8 kW lewat konektor CHAdeMO. Varian dengan baterai lebih besar menaikkan kemampuan itu ke 49,7 kW.

  • Baterai: LFP 22,4 kWh / 35,84 kWh
  • Motor: 47 kW (63 hp), torsi 160 Nm
  • Jarak tempuh: 210-320 km
  • DC charging: 35,8 kW (CHAdeMO) / 49,7 kW
  • Dimensi: 3.395 x 1.475 x 1.800 mm, wheelbase 2.520 mm
  • Kapasitas: 4 penumpang, bagasi 280 liter

Kenapa Indonesia Belum Dapat Kepastian

Luther menyebut riset pasar jadi penentu utama. BYD ingin tahu apakah konsumen Indonesia benar-benar berminat pada mobil sekecil Racco sebelum mengambil keputusan.

Ada alasan logis di balik kehati-hatian itu. Racco dirancang untuk jalanan kota Jepang yang sempit, bukan untuk medan atau kebiasaan pemakaian mobil di Indonesia yang cenderung lebih besar dan sering dipakai jarak jauh.

Harga juga belum dibahas sama sekali. Tanpa angka resmi, sulit menilai apakah Racco bisa bersaing di segmen mobil listrik murah yang mulai ramai di Indonesia.

Yang Perlu Diperhatikan

Racco memakai konektor CHAdeMO, standar yang tidak umum di Indonesia. Infrastruktur pengisian daya lokal lebih banyak memakai CCS2 dan Type 2, jadi kesiapan jaringan jadi pertanyaan tersendiri kalau mobil ini benar-benar masuk.

Ukurannya juga jauh lebih kecil dari mobil listrik murah yang sudah dijual di sini. Pembeli Indonesia terbiasa dengan kabin lega dan bagasi besar, dua hal yang jadi kompromi utama di kelas kei car.

Reporter: Faisal Hasbi
Sumber: oto.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top