Dangote Refinery Nigeria Produksi 650.000 Barel Minyak Pakai Teknologi China

Penulis: Hendra Safrizal  •  Minggu, 03 Mei 2026 | 15:58:59 WIB
Dangote Refinery di Nigeria mulai produksi 650.000 barel minyak per hari dengan teknologi China.

Dangote Petroleum Refinery di Nigeria resmi beroperasi dengan kapasitas 650.000 barel per hari untuk mengatasi krisis energi di Afrika. Kilang minyak terbesar di dunia ini dibangun menggunakan teknologi konstruksi asal China senilai US$20 miliar untuk mengurangi ketergantungan impor bahan bakar dari Timur Tengah.

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mengganggu pasokan minyak global tidak lagi menjadi ancaman bagi Nigeria. Dangote Petroleum Refinery, kilang minyak satu jalur (single-train) terbesar di dunia, kini beroperasi penuh di Lagos untuk mengamankan kebutuhan bahan bakar di benua Afrika.

Fasilitas raksasa ini muncul sebagai solusi saat rantai pasok energi melalui Selat Hormuz terganggu akibat konflik di Timur Tengah. Dengan kapasitas produksi mencapai 650.000 barel per hari, kilang milik Aliko Dangote ini mulai memasok kebutuhan BBM ke berbagai negara, mulai dari Senegal di pesisir barat hingga Mozambik di tenggara Afrika.

Solusi Energi di Tengah Konflik Global

Proyek ambisius senilai US$20 miliar atau sekitar Rp320 triliun tersebut mengubah posisi Nigeria dari importir menjadi eksportir neto produk minyak bumi. Selama delapan tahun masa konstruksi, proyek ini sempat menghadapi berbagai tantangan pendanaan sebelum akhirnya menggandeng mitra strategis dari Asia.

Keberhasilan pembangunan kilang ini tidak lepas dari peran kontraktor engineering, procurement, and construction (EPC) asal China. Aliko Dangote, pendiri sekaligus orang terkaya di Afrika, menyebut efisiensi biaya dan kecepatan pengerjaan menjadi alasan utama memilih teknologi dari Negeri Tirai Bambu tersebut.

"Kasus antara Afrika dan China seperti saat semua orang meninggalkan Anda, lalu seseorang datang dan mengajak bermitra," ungkap Dangote dalam konferensi Africa Finance Corporation di Nairobi, April lalu.

Ia menambahkan bahwa dukungan jalur kredit dari China memungkinkan proyek selesai tepat waktu di saat lembaga keuangan internasional lainnya cenderung menarik diri. Kemitraan ini terbukti krusial dalam menjaga stabilitas energi di kawasan yang sebelumnya sangat bergantung pada pasokan luar negeri.

Spesifikasi dan Target Ekspansi

Kilang ini menggunakan teknologi pemrosesan mutakhir untuk menghasilkan berbagai produk turunan minyak bumi dengan standar internasional. Berikut adalah rincian operasional dan teknis Dangote Petroleum Refinery:

  • Kapasitas Saat Ini: 650.000 barel per hari
  • Target Ekspansi: 1,4 juta barel per hari
  • Nilai Investasi: US$20 miliar (sekitar Rp320 triliun)
  • Kontrak Baru: US$400 juta (sekitar Rp6,4 triliun) dengan XCMG
  • Lokasi: Zona Bebas Lekki, Lagos, Nigeria

Pada Februari kemarin, Dangote Petroleum Refinery menandatangani kesepakatan baru senilai US$400 juta dengan XCMG Construction Machinery asal China. Kerja sama ini bertujuan untuk memulai fase ekspansi yang akan melipatgandakan kapasitas produksi kilang di masa depan.

Relevansi bagi Ketahanan Energi Indonesia

Langkah Nigeria memperkuat infrastruktur hilir migas memberikan pelajaran penting bagi Indonesia yang juga tengah menggenjot proyek Refinery Development Master Plan (RDMP). Ketergantungan pada impor BBM di tengah fluktuasi harga minyak mentah dunia merupakan risiko besar bagi stabilitas ekonomi nasional.

Keberhasilan Dangote membuktikan bahwa kolaborasi strategis dengan penyedia teknologi konstruksi global dapat mempercepat kemandirian energi. Bagi Indonesia, optimalisasi kilang domestik seperti yang dilakukan di Balikpapan dan Cilacap menjadi kunci agar tidak rentan terhadap guncangan suplai dari pasar global.

Ekspansi kilang Dangote diprediksi akan mengubah peta kekuatan energi di wilayah Atlantik secara permanen. Dengan dukungan teknologi China yang agresif, Nigeria kini bersiap menantang dominasi kilang-kilang besar di Eropa dan Timur Tengah dalam beberapa tahun ke depan.

Reporter: Hendra Safrizal
Back to top