Huawei resmi meluncurkan Pura 90 Pro Max dengan sistem kamera aperture fisik 10 tingkat yang mampu mengontrol cahaya secara presisi layaknya DSLR. Inovasi radikal ini memberikan tekanan besar bagi Apple dan Samsung untuk segera merombak standar perangkat keras fotografi mereka. Langkah Huawei sekaligus menjadi tolok ukur baru bagi fitur serupa yang kabarnya baru akan menyambangi lini iPhone 18 Pro mendatang.
layaknya DSLR. Inovasi radikal ini memberikan tekanan besar bagi Apple dan Samsung untuk segera merombak standar perangkat keras fotografi mereka. Langkah Huawei sekaligus menjadi tolok ukur baru bagi fitur serupa yang kabarnya baru akan menyambangi lini iPhone 18 Pro mendatang. ISI:Lanskap fotografi mobile kembali bergejolak setelah Huawei merilis Pura 90 Pro Max di pasar China. Ponsel ini mengusung kamera utama dengan bukaan lensa (aperture) yang bergeser secara mekanis dalam 10 tingkatan, mulai f/1.4 hingga f/4.0. Fleksibilitas ini memungkinkan pengguna mengatur intensitas cahaya ke sensor, sebuah keunggulan yang selama ini menjadi domain eksklusif kamera DSLR.
Sistem variable aperture ini bekerja otomatis pada mode instan, namun memberikan kendali penuh dalam mode Pro. Saat minim cahaya, lensa membuka lebar hingga f/1.4 untuk menyedot cahaya maksimal demi hasil foto malam yang jernih. Sebaliknya, pada kondisi terik, lensa mengecil ke f/4.0 guna menjaga ketajaman dan mencegah kelebihan eksposur.
Huawei menyematkan teknologi Lateral Overflow Integration Capacitor (LOFIC) untuk memperluas jangkauan dinamis (dynamic range). Sinergi ini menghasilkan gambar dengan eksposur seimbang langsung dari sensor tanpa ketergantungan berlebih pada pemrosesan perangkat lunak. Strategi ini menempatkan Huawei selangkah di depan iPhone 17 Pro yang diprediksi masih bertahan dengan aperture tetap f/1.8.
Ketertinggalan perangkat keras kamera pada merek mapan seperti Apple dan Samsung kini memicu sorotan tajam para analis. Laporan internal mengindikasikan Apple tengah menguji sistem aperture variabel serupa untuk lini iPhone 18 Pro dan Pro Max. Jika terwujud, Apple baru bisa menyamai teknologi Huawei ini dalam satu atau dua tahun mendatang.
Selama ini, iPhone mengandalkan komputasi fotografi untuk memanipulasi kedalaman bidang (depth of field). Kehadiran aperture fisik memungkinkan kontrol efek bokeh terjadi secara optik, bukan sekadar simulasi algoritma cerdas. Kemampuan ini krusial bagi fotografer mobile yang mendambakan karakter gambar organik dan natural.
Selain lensa utama, Huawei membekali perangkat ini dengan sensor telephoto 200MP dan ultra-wide 40MP. Sensor utamanya memakai susunan filter RYYB (Red-Yellow-Yellow-Blue) untuk menggantikan filter RGB tradisional. Piksel kuning tersebut mampu menyerap cahaya lebih banyak, sehingga performa di ruang gelap jauh melampaui filter hijau konvensional.
Inovasi berlanjut lewat fitur AI Pose Suggestions yang berjalan sepenuhnya di dalam perangkat (on-device AI). Fitur ini menampilkan panduan pose visual di layar saat memotret subjek manusia. Karena beroperasi tanpa koneksi internet, privasi data pengguna tetap terlindungi di dalam ponsel.
Pura 90 Pro Max juga membawa layar OLED 6,9 inci anti-refleksi dan baterai jumbo dengan pengisian daya instan. Namun, perangkat ini masih terganjal absennya layanan Google secara bawaan. Kendala ini menjadi penghalang utama bagi konsumen global yang bergantung pada ekosistem aplikasi Google.
Hingga kini, Huawei belum mengungkap jadwal peluncuran global untuk seri Pura 90. Meski demikian, kehadiran teknologi kamera 10 tingkat ini telah mematok standar baru bagi para pesaing. Industri kini menanti apakah Apple mampu menghadirkan implementasi lebih matang atau justru semakin tertinggal dalam adu mekanik kamera.