Kenaikan harga solar non-subsidi di Indonesia mulai berdampak nyata pada finansial pemilik SUV dan MPV bermesin diesel modern. Lonjakan harga yang mencapai hampir dua kali lipat ini memaksa para pengguna merombak anggaran operasional bulanan mereka secara drastis.
Saat ini, harga Dexlite terpantau berada di kisaran Rp 26.000 per liter, sementara Pertamina Dex menyentuh angka Rp 27.900 per liter. Angka ini jauh meninggalkan harga solar subsidi yang masih dipatok di level jauh lebih rendah, namun berisiko bagi mesin diesel teknologi terbaru.
May (68), seorang warga Jakarta yang rutin menggunakan Mitsubishi Pajero Sport, merasakan tekanan besar pada pengeluaran hariannya. Sebelum tren kenaikan harga ini terjadi, ia hanya perlu menyiapkan dana Rp 500.000 untuk mengisi penuh tangki bahan bakarnya dengan Dexlite.
"Luar biasa mahalnya, naiknya sampai dua kali lipat. Dulu Rp 500 ribu tuh udah full tank, sekarang full tank harus Rp 1,5 juta," ungkap May.
Meski biaya operasional membengkak, May enggan beralih ke bahan bakar yang lebih murah atau bersubsidi. Ia khawatir kualitas bahan bakar yang rendah akan merusak komponen mesin diesel modern miliknya. "Takutnya mesinnya rusak kalau ke biosolar atau Pertalite, takutnya enggak cocok," tambahnya.
Keresahan serupa dialami oleh Ari (37), karyawan di kawasan Mega Kuningan yang mengandalkan Toyota Innova diesel lansiran 2019. Dengan rute harian Bintaro-Jakarta Selatan, kenaikan harga BBM ini dianggap sudah melampaui batas kewajaran bagi pekerja kantoran.
"Bikin emosi dong. Naiknya enggak kira-kira sekarang naik hampir 100 persen. Tapi enggak mau juga sih pakai solar, kasihan mobilnya," tegas Ari.
Kondisi ini akhirnya mengubah gaya hidup mobilitas keluarganya. Ari kini lebih memilih menggunakan transportasi publik seperti TransJakarta untuk aktivitas tertentu, terutama saat akhir pekan. Langkah ini diambil guna menjaga keseimbangan arus kas rumah tangga di tengah tingginya biaya bahan bakar yang kian mencekik.