PESISIR SELATAN — Harga gambir dengan kadar air 18 persen kini hanya bertahan di angka Rp20.000 per kilogram di tingkat produsen. Angka tersebut dinilai para petani tidak lagi cukup untuk menutup biaya operasional, apalagi menyisakan keuntungan.
Frengki, salah satu petani di Pesisir Selatan, menyebut kondisi saat ini bagaikan "gali lubang tutup lubang". Ia mengaku biaya produksi terus melonjak, namun harga jual justru jatuh saat kualitas daun sudah diupayakan maksimal. "Biaya produksi tidak murah, namun harga jual di pasar justru jatuh saat kualitas sudah kami upayakan maksimal," keluhnya pada Selasa (12/5/2026).
Ketimpangan harga ini memperparah jeratan utang petani. Sebagian besar petani menggantungkan modal awal musim tanam pada tengkulak. Akibatnya, daya tawar mereka lenyap saat panen tiba karena seluruh hasil penjualan langsung digunakan untuk melunasi pinjaman.
Fenomena serupa sebelumnya juga disorot oleh Liputan6.com, di mana skema pinjaman modal membuat petani tidak memiliki posisi tawar sama sekali. Mereka terpaksa menjual dengan harga berapa pun yang ditawarkan tengkulak demi memenuhi kewajiban.
Tekanan ekonomi ini mulai mendorong petani untuk meninggalkan lahan gambir. Banyak yang mempertimbangkan beralih ke kelapa sawit yang dinilai memiliki stabilitas harga dan tata niaga lebih transparan. Sebagian lahan gambir bahkan sudah terbengkalai dan berubah menjadi semak belukar.
Riko, petani lainnya, menyebut harga psikologis agar petani bisa sejahtera setidaknya berada di level Rp35.000 per kilogram. "Jika tidak ada intervensi, kami khawatir kejayaan gambir Sumbar hanya tinggal sejarah karena semua orang pindah ke sawit," ujarnya.
Menanggapi krisis ini, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat melalui Kepala Dinas Perkebunan Tanaman Pangan dan Hortikultura, Afniwirman, menegaskan solusi jangka panjang adalah memutus ketergantungan pada ekspor bahan mentah. Pihaknya tengah mematangkan rencana pembangunan pabrik hilirisasi melalui kerja sama antara PTPN IV dan Universitas Andalas.
Sumatera Barat selama ini memasok 80 hingga 90 persen total produksi gambir nasional dan menjadi pemasok utama dunia. Namun tanpa pabrik pengolahan di dalam negeri, harga gambir terus didikte oleh eksportir dan spekulan pasar global.
Beberapa agenda pemerintah ke depan meliputi kepastian lokasi pabrik antara Kabupaten Lima Puluh Kota atau Pesisir Selatan, bantuan alat produksi ekstraksi untuk menjaga kualitas daun, serta riset hilirisasi bersama akademisi untuk menciptakan produk turunan seperti kosmetik, farmasi, dan penyamak kulit. Petani kini hanya bisa menanti realisasi janji tersebut.