TANAH DATAR — Suasana khidmat menyelimuti Masjid Nurul Hidayah di Jorong Gunung Bungsu saat ratusan jemaah Syattariyah mengikuti Salat Iduladha secara berjemaah pada Jumat (29/5/2026). Pelaksanaan ibadah ini berlangsung seperti umat Islam pada umumnya, namun memiliki perbedaan mendasar pada metode penentuan harinya.
Imam Masjid Nurul Hidayah, Jonita Sofia Amri, menjelaskan bahwa penetapan Iduladha oleh jemaah Syattariyah didasarkan pada perhitungan hari menurut hadis Nabi yang telah diketahui sejak awal Ramadan. Kelompok ini tidak menggunakan metode hisab maupun mengikuti keputusan pemerintah.
“Terjadinya keterlambatan hari raya seperti sekarang ini daripada pemerintah karena hadis nabi mengatakan puasa kamu adalah hari raya kamu di mana kamu berpuasa di bulan Ramadan di situlah kamu berhari raya di bulan haji. Bulan zulhijah kami karena ditentukan di awal Ramadan. Jadi kalau kami puasa (Ramadan) di hari Jumat maka kami hari raya kami di bulan haji hari Jumat juga,” ujar Jonita.
Selain perbedaan waktu, jemaah Syattariyah di Tanah Datar memiliki ciri khas dalam penyampaian khutbah. Khotib menggunakan bahasa Arab dan membacakan naskah khutbah lama yang telah berusia puluhan tahun, ditulis oleh para ulama terdahulu.
Tradisi ini menjadi pembeda sekaligus penanda identitas kelompok tarekat tersebut di tengah masyarakat. Pelaksanaan salat Iduladha tetap berlangsung tertib dan khusyuk tanpa ada gangguan.
Perbedaan ini tidak menghalangi jemaah untuk menjalankan ibadah kurban dan salat Iduladha. Mereka tetap melaksanakan rangkaian ibadah sesuai keyakinan masing-masing, termasuk penyembelihan hewan kurban setelah salat.
Jemaah Syattariyah di Jorong Gunung Bungsu sudah terbiasa dengan perbedaan penetapan hari raya ini. Mereka menganggapnya sebagai bagian dari tradisi yang diwariskan turun-temurun.
Penentuan Iduladha oleh jemaah Syattariyah merujuk pada hadis Nabi yang menghubungkan awal Ramadan dengan hari raya di bulan Zulhijah. Jika mereka memulai puasa Ramadan pada hari Jumat, maka Iduladha juga jatuh pada hari Jumat.
Metode ini sudah menjadi pegangan sejak lama dan berbeda dengan sistem hisab yang digunakan pemerintah. Meski demikian, jemaah tetap menjalankan ibadah dalam suasana damai dan toleran.
Masyarakat di Nagari Batipuh Baruah dan sekitarnya sudah memahami perbedaan ini. Tidak ada gesekan yang berarti karena perbedaan hari raya sudah menjadi hal lumrah di kalangan penganut tarekat di Sumatera Barat.
Jemaah Syattariyah di daerah lain, seperti di Ulakan Tapakis dan Ponorogo, juga memiliki tradisi serupa dalam menentukan awal Ramadan dan Idulfitri maupun Iduladha.