Gagasan "Fits on a Floppy" digagas oleh pengembang Matt Sephton sebagai sebuah manifesto yang menamakan dirinya "A Manifesto for Small Software." Intinya sederhana: dengan memaksakan batasan ukuran proyek seminimal mungkin, pengembang dipaksa untuk menulis kode yang sederhana, mudah dibaca, dan mudah dirawat dalam jangka panjang. Ini bukan tentang media fisik, melainkan tentang filosofi efisiensi yang menurut para pendukungnya sudah lama hilang dalam industri modern.
Gerakan ini bukan tanpa dasar intelektual. Manifesto tersebut merujuk pada "A Plea for Lean Software" yang ditulis pada 1995 oleh Niklaus Wirth, pencipta bahasa pemrograman Pascal. Wirth mengamati bahwa setiap generasi perangkat keras yang lebih cepat justru diikuti oleh perangkat lunak yang semakin lamban—sebuah fenomena yang kemudian dikenal sebagai Wirth's Law.
Kritik juga datang dari kalangan internal industri. Seorang pengembang Red Hat yang tidak disebutkan namanya pernah memetakan enam gelombang omong kosong industri (waves of industry BS), dari blockchain hingga AI. "Siapa pun yang bilang bisa memperbaiki segalanya dengan blockchain atau AI sama tidak bisa dipercayanya dengan guru yang tidak pernah memberi PR," tulis Randall Munroe dalam komik XKCD yang dikutip manifesto tersebut.
Untuk membuktikan bahwa perangkat lunak kecil masih relevan di 2026, konsultan asal Belgia Bert Hubert membuat Trifecta, sebuah alat berbagi gambar berbasis web yang hanya berukuran 1,7 MB dalam format Docker terkompresi. Dengan sedikit trik format disk, aplikasi itu bisa muat dalam disket 1,4 MB standar.
Matt Sephton sendiri telah menulis 18 aplikasi kecil yang fungsional, termasuk sebuah screensaver yang terinspirasi dari Flying Toasters klasik buatan Berkeley. Di ajang FOSDEM tahun lalu, pengelola peramban web Dillo bahkan membagikan disket berisi perangkat lunak terbaru mereka kepada para pengunjung. Bahasa pemrograman modern seperti Hare dan Janet juga dirancang dengan ukuran yang sangat kecil—Hare versi 1.0 rencananya akan dijual dalam bentuk disket.
Menurut para penggagas gerakan ini, masalah utama industri perangkat lunak saat ini adalah akumulasi lapisan kompleksitas yang tidak perlu. Mulai dari ketergantungan pada pustaka kode raksasa (dependency hell), arsitektur mikroservis yang berlebihan, hingga kebohongan pemasaran seputar cloud dan AI. "Bahkan alat untuk menulis file ISO ke USB kini berukuran 100 kali lebih besar dari yang seharusnya," tulis manifesto itu.
Solusi yang ditawarkan justru kontra-intuitif: mundur ke model yang lebih sederhana. Alih-alih membangun pusat data raksasa versi Eropa sendiri untuk lepas dari dominasi cloud AS, Hubert dan kawan-kawan menyarankan agar organisasi kembali menyimpan data di server mereka sendiri. Prinsipnya adalah KISS—Keep It Simple, Stupid—dan "Just Use One Big Server" yang dijalankan oleh teknisi senior berpengalaman, bukan oleh algoritma AI yang belum terbukti.
Pada akhirnya, gerakan "Fits on a Floppy" adalah pengingat bahwa lebih sedikit seringkali justru lebih baik. Di era di mana aplikasi chatting bisa memakan ruang penyimpanan hingga 500 MB, mungkin sudah saatnya industri kembali bertanya: apakah semua kode ini benar-benar diperlukan? ®