SUMATERA BARAT — Laporan terbaru dari lembaga riset pasar global menunjukkan gambaran yang timpang dalam adopsi kendaraan listrik (EV) dunia. Pertumbuhan hanya 8 persen secara global disebabkan oleh dua pasar utama yang justru mengalami kontraksi. Sementara itu, 148 negara lain mencatat kenaikan penjualan hingga 50 persen, dengan tingkat adopsi menyentuh rekor 12 persen.
China, yang selama ini menjadi lokomotif penjualan EV dunia, justru mencatat penurunan 8 persen menjadi 1,33 juta unit. Penyebab utamanya adalah pengurangan insentif pajak pembelian kendaraan yang mulai berlaku Januari lalu.
Di Amerika Serikat, situasi tak jauh berbeda. Penjualan EV ambles 20 persen karena kebijakan penghapusan subsidi secara bertahap yang akan tuntas pada September 2025. Konsumen di dua negara ini cenderung menahan pembelian menunggu kepastian insentif.
Berbeda dengan China dan AS, Uni Eropa berhasil memulihkan diri dari penurunan kuartal sebelumnya. Penjualan EV di kawasan ini meningkat 40 persen, didorong oleh kebijakan emisi yang semakin ketat dan perluasan infrastruktur pengisian daya.
Fenomena menarik terjadi di Jepang. Meski harga bensin di Negeri Sakura tetap rendah berkat subsidi pemerintah, penjualan EV justru melonjak 50 persen pada Maret dan April. Angka ini menunjukkan bahwa faktor harga BBM bukan satu-satunya pendorong adopsi kendaraan listrik.
Kinerja Asia Tenggara menjadi salah satu cerita paling positif dalam laporan ini. Dengan pertumbuhan 40 persen menjadi 90.000 unit, kendaraan listrik kini menguasai 16 persen pangsa pasar otomotif regional. Angka 16 persen ini dianggap para analis sebagai titik balik untuk adopsi secara luas.
Secara global, proporsi EV dalam penjualan mobil baru telah melampaui 10 persen di 38 negara. Bahkan, 28 negara sudah melewati ambang batas 16 persen yang menandakan transisi massal ke elektrifikasi mulai berlangsung.
Data ini menjadi sinyal penting bagi pasar Indonesia. Meski tidak disebutkan secara spesifik dalam laporan, tren pertumbuhan Asia Tenggara menunjukkan bahwa kebijakan insentif yang konsisten dan perluasan infrastruktur menjadi kunci. Sebaliknya, pengurangan subsidi di China dan AS justru memukul permintaan.
Bagi konsumen Indonesia yang tengah mempertimbangkan kendaraan listrik, momentum ini bisa jadi waktu yang tepat. Terutama jika pemerintah mempertahankan insentif PPnBM dan Bea Balik Nama yang saat ini masih berlaku untuk EV.