Rupiah Dibuka di Rp17.878 per Dolar AS, Sentimen Perang Timur Tengah Kembali Menekan

Penulis: Hafizh Ramadhan  •  Rabu, 03 Juni 2026 | 10:46:22 WIB
Rupiah dibuka melemah di posisi Rp17.878 per dolar AS pada perdagangan Rabu (3/6).

SUMATERA BARAT — Pergerakan mata uang Garuda pada perdagangan Rabu (3/6) langsung berada di zona merah sejak pembukaan. Mata uang Asia lainnya juga kompak tertekan, dipimpin ringgit Malaysia yang ambles 0,25 persen, disusul yuan China dan peso Filipina yang masing-masing turun 0,05 persen dan 0,03 persen.

Di sisi lain, beberapa mata uang kawasan justru mampu menguat. Won Korea Selatan naik 0,11 persen, yen Jepang terapresiasi 0,03 persen, dan dolar Singapura bertambah 0,02 persen. Pergerakan mata uang negara maju juga bervariasi; poundsterling Inggris menguat tipis 0,03 persen sementara euro Eropa justru melemah 0,03 persen.

Faktor Pemicu: Minyak Naik, Perdamaian Makin Jauh

Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong menilai kekhawatiran pasar terhadap prospek perdamaian di Timur Tengah menjadi biang kerok utama. Eskalasi terbaru konflik tersebut memicu lonjakan harga minyak mentah dunia, yang secara langsung membebani rupiah dan mata uang emerging market lainnya.

"Eskalasi baru di Timur Tengah memicu kekhawatiran terhadap prospek perdamaian dan mendorong lonjakan harga minyak dunia. Kondisi ini berpotensi menekan rupiah terhadap dolar AS," jelas Lukman kepada CNNIndonesia.com.

Proyeksi: Bergerak di Zona Rp17.800 hingga Rp17.900

Lukman memperkirakan pergerakan rupiah hari ini akan berada dalam rentang Rp17.800 hingga Rp17.900 per dolar AS. Artinya, level psikologis Rp17.900 bisa kembali diuji jika tekanan beli dolar AS terus berlanjut.

Bagi investor dan pelaku bisnis, pelemahan ini berarti biaya impor—terutama untuk komoditas energi dan bahan baku—berpotensi membengkak. Di sisi lain, eksportir yang menerima pembayaran dalam dolar AS bisa menikmati keuntungan kurs yang lebih tinggi.

Pasar kini menanti data tenaga kerja AS yang akan dirilis akhir pekan ini. Jika data menunjukkan ekonomi AS masih kuat, dolar berpotensi menguat lebih lanjut dan semakin menekan rupiah.

Investasi mengandung risiko.

Reporter: Hafizh Ramadhan
Sumber: cnnindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top