SUMATERA BARAT — Konflik bersenjata yang melibatkan Iran dan Amerika Serikat berdampak langsung pada aset strategis Pertamina di Irak. Ladang minyak West Qurna yang dikelola PHE, subholding hulu Pertamina, terpaksa menghentikan seluruh operasinya.
Awang Lazuardi, Presiden Direktur PHE, mengungkapkan bahwa beberapa hari setelah perang pecah, pemerintah Irak mengambil alih kendali atas ladang tersebut. Langkah ini diambil otoritas setempat untuk mengamankan aset energi nasional mereka di tengah situasi yang tidak stabil.
“Beberapa hari setelah perang, pemerintah Irak mengambil alih kendali atas ladang tersebut,” kata Awang dalam pernyataannya.
Dampak Langsung ke Target Produksi Nasional
Produksi West Qurna yang mencapai 100.000 barel per hari merupakan kontribusi signifikan bagi portofolio hulu Pertamina. Kehilangan pasokan sebesar ini memberikan tekanan pada target produksi minyak nasional perusahaan.
PHE kini tengah berkoordinasi dengan pemerintah Irak dan otoritas terkait untuk memantau perkembangan situasi keamanan di sekitar lokasi ladang. Belum ada kepastian kapan operasi dapat kembali berjalan normal.
Perang yang melibatkan Iran dan AS tidak hanya mengganggu operasi Pertamina, tetapi juga memicu gejolak di pasar minyak global. Para analis memperkirakan harga minyak mentah akan melonjak dalam waktu dekat jika konflik meluas ke negara-negara penghasil minyak lain di kawasan Teluk.
Tantangan Baru bagi Holding BUMN Migas
Insiden ini menjadi ujian bagi ketahanan operasi internasional Pertamina. Sebagai satu-satunya BUMN migas Indonesia yang memiliki aset produksi di luar negeri, penghentian paksa di Irak memaksa perusahaan untuk mengkaji ulang strategi ekspansi globalnya.
PHE belum merinci langkah mitigasi jangka panjang. Namun, perusahaan dipastikan akan mengandalkan produksi dari lapangan-lapangan domestik untuk menutup sementara kekurangan pasokan akibat konflik di Timur Tengah.
Perang Iran-AS yang masih berlangsung membuat prospek pemulihan operasi West Qurna masih suram. Situasi ini menjadi pengingat bagi perusahaan migas Indonesia akan risiko geopolitik yang melekat pada investasi di luar negeri.