BUKITTINGGI — Pameran ini tidak sekadar memajang karya seni. Wakil Wali Kota Bukittinggi Ibnu Asis menyebutnya sebagai ruang pertemuan antara estetika, literasi, dan nilai-nilai spiritual yang langka ditemukan.
"Makna-makna suci yang terkandung dalam Al Qur'an dapat diungkapkan melalui karya kaligrafi yang megah dan penuh estetika," kata Ibnu Asis di lokasi pameran, Jumat (5/6).
Karya Yusuf Liu Baojun dipajang di Ruang Rapat Istana Bung Hatta. Sebelumnya, seniman yang kini menetap di Malaysia itu pernah memperagakan pembuatan kaligrafi sepanjang 25 meter dalam ajang Wara-Wiri Festival Ekonomi Kreatif di Jakarta.
Tak hanya pameran, momentum IMLF juga dimanfaatkan Yusuf untuk meluncurkan buku terbarunya berjudul "Satu Jiwa Abadi di Sumatra". Hingga saat ini, ia telah menghasilkan sedikitnya 37 judul buku dan ratusan karya seni.
Bunda Literasi Sumatera Barat, Harneli Mahyeldi, mengajak warga Bukittinggi dan sekitarnya untuk menyaksikan langsung pameran tersebut. Menurutnya, ini adalah kesempatan yang tidak datang setiap hari.
"Kami mengajak dunsanak dan seluruh masyarakat untuk datang dan menyaksikan langsung karya-karya kaligrafi yang indah dan sarat makna ini. Pameran ini menjadi bagian dari peringatan 100 Tahun Jam Gadang dan rangkaian kegiatan IMLF yang berlangsung," kata Harneli.
Pemerintah Kota Bukittinggi melihat pameran ini sebagai alat promosi pariwisata yang efektif. Ibnu Asis menambahkan, kegiatan ini sejalan dengan semangat IMLF untuk memperkenalkan budaya Minangkabau ke kancah internasional.
"Pameran ini tidak hanya menunjukkan kekayaan seni Islam yang luar biasa, tetapi juga menjadi sarana promosi budaya dan pariwisata Bukittinggi sebagai pusat peradaban dataran tinggi Minangkabau," ujarnya.
Kedua pejabat itu tampak kagum saat menyusuri kaligrafi sepanjang 100 meter. Mereka juga menyempatkan diri mendengarkan penjelasan soal makna dan filosofi di balik setiap goresan tinta Yusuf Liu Baojun.