PADANG — Medi Iswandi mengingatkan bahwa gempa besar 2009 lalu harus menjadi pelajaran abadi bagi Sumatera Barat. Wilayah ini, kata dia, berada di kawasan tektonik aktif dengan megathrust Mentawai di barat yang menyimpan energi gempa besar.
"Sumatera Barat dapat dikatakan sebagai laboratorium nyata kebencanaan karena memiliki 13 jenis potensi bencana. Namun yang paling penting bukan hanya memahami ancamannya, melainkan memastikan seluruh unsur siap menghadapinya," ujar Medi di Auditorium Gubernuran.
Selain gempa dan tsunami, Pemprov Sumbar juga mewaspadai longsor, banjir, dan berbagai bencana hidrometeorologi lainnya. Medi menekankan bahwa dampak bencana tidak semata ditentukan oleh besarnya ancaman alam, tetapi juga oleh kesiapan sistem dan kesadaran masyarakat terhadap risiko.
"Pertanyaan yang harus terus dijawab bersama bukan lagi apakah bencana akan terjadi, melainkan apakah seluruh pihak telah siap ketika bencana datang," tegasnya.
Pemprov Sumbar saat ini tengah memperkuat sistem peringatan dini, meningkatkan kapasitas aparatur dan relawan, serta mengembangkan nagari tangguh bencana. Penyusunan rencana kontingensi tsunami dan integrasi mitigasi ke dalam perencanaan pembangunan daerah juga menjadi prioritas.
Meski demikian, Medi mengakui masih ada sejumlah tantangan. Mulai dari keterbatasan infrastruktur evakuasi, penguatan literasi kebencanaan masyarakat, hingga peningkatan koordinasi antar lembaga. Ia menegaskan, sinergi seluruh pemangku kepentingan menjadi faktor kunci.
"Masih banyak tantangan yang perlu menjadi perhatian kita bersama, terutama pada aspek penguatan infrastruktur dan literasi masyarakat. Oleh karena itu, ini perlu dukungan banyak pihak, tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah semata," kata Medi.
Dalam kesempatan itu, Medi juga menyoroti peran TNI yang tidak hanya penting saat tanggap darurat, tetapi juga dalam membangun budaya siaga melalui edukasi, pelatihan, dan simulasi kebencanaan di tengah masyarakat. Kegiatan KKDN Sesko TNI dinilai menjadi ruang strategis untuk memperkuat konektivitas antara kebijakan nasional dan implementasi di daerah.
Ia berharap hasil kajian dari perwira siswa Sesko TNI bisa menjadi masukan kebijakan dan referensi dalam memperkuat sistem kesiapsiagaan bencana, baik di Sumatera Barat maupun secara nasional.
"Kesiapsiagaan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama demi melindungi masyarakat, menjaga keberlanjutan pembangunan, dan memperkuat ketahanan nasional," pungkas Medi.