SUMATERA BARAT — Keputusan menambah nomenklatur jabatan Wakil Direktur Utama bukan sekadar perubahan struktur. Executive Vice President Komunikasi Korporat dan TJSL PLN, Gregorius Adi Trianto, mengatakan posisi ini dibutuhkan agar koordinasi strategi perusahaan berjalan lebih solid.
“Jabatan tersebut diharapkan memperkuat koordinasi dan pelaksanaan strategi perusahaan,” ujar Gregorius dalam keterangan resmi, Jumat (19/6). Menurutnya, perubahan susunan direksi ini merupakan respons atas dinamika industri kelistrikan yang berubah cepat. PLN juga terus didorong mendukung target pembangunan nasional di sektor energi.
Yusuf Didi Setiarto bukan nama baru di sektor energi. Pria kelahiran Padang, 1974 ini memiliki latar belakang pendidikan hukum. Kariernya di industri migas dan kelistrikan sudah teruji sejak satu dekade lalu.
Pada 2013-2015, ia menjabat sebagai Head Legal Counsel SKK Migas. Kemudian, ia dipercaya menjadi Special Advisor Wakil Menteri ESDM periode 2017-2019. Sejak 7 Desember 2021, Didi menjabat sebagai Direktur Legal & Human Capital PLN. Ia juga sempat duduk sebagai Komisaris Utama PT PLN Energi Primer Indonesia.
Pengalaman di bidang hukum dan regulasi energi ini dinilai krusial. PLN kini tengah menghadapi berbagai tantangan, mulai dari transisi energi, tarif listrik, hingga kebutuhan investasi besar-besaran untuk infrastruktur ketenagalistrikan.
Dalam kesempatan yang sama, manajemen PLN juga menyampaikan apresiasi kepada jajaran direksi yang telah mengakhiri masa tugasnya. Gregorius menegaskan, dedikasi mereka telah mendorong transformasi perusahaan secara berkelanjutan.
“Kinerja korporasi dan kualitas layanan pelanggan juga terus meningkat,” ungkapnya. PLN meyakini, kepemimpinan baru dengan tambahan posisi Wakil Direktur Utama akan semakin memperkuat kinerja perusahaan ke depan.
Langkah ini menjadi sinyal bahwa PLN serius merapikan barisan di level puncak. Di tengah target ambisius pemerintah mencapai net zero emission dan elektrifikasi nasional, koordinasi antar direksi menjadi kunci agar agenda besar itu tidak sekadar wacana.