BUKITTINGGI — Sebanyak 38 negara turut serta dalam rangkaian peringatan satu abad Jam Gadang yang digelar di Kota Bukittinggi. Wali Kota Bukittinggi, Ramlan Nurmatias, menyebut kehadiran puluhan negara itu membuka peluang kerja sama internasional yang bisa berdampak langsung pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Ramlan menegaskan bahwa Jam Gadang memiliki posisi historis yang kuat, tidak hanya bagi Kota Bukittinggi tetapi juga bagi Indonesia. Menurutnya, ikon kota itu menjadi saksi bisu berbagai peristiwa penting selama satu abad terakhir dan menjadi penjaga memori kolektif masyarakat Minangkabau.
"Tidak banyak kota di Indonesia yang memiliki posisi historis sekuat Bukittinggi. Sejarah ini bukan hanya untuk dibaca, tapi menjadi pelajaran berharga bagi anak bangsa dan dapat menjadi dasar dalam menjalin hubungan diplomatis dengan Belanda dan negara lainnya," kata Ramlan.
Duta Besar Kerajaan Belanda untuk Indonesia, Marc Gerritsen, mengapresiasi peran penting masyarakat Minangkabau dalam sejarah pergerakan kemerdekaan. Ia menyebut perlawanan terhadap kolonialisme telah memperkuat identitas masyarakat yang berlandaskan adat dan agama, sekaligus melahirkan banyak tokoh intelektual dan pemimpin bangsa.
"Hubungan Belanda dan Indonesia, khususnya Minangkabau, tidak hanya terjalin melalui sejarah, tetapi juga melalui pendidikan, budaya dan ekonomi. Jam Gadang sebagai simbol persahabatan yang langgeng antara kedua negara," ujar Marc Gerritsen.
Menteri Kebudayaan RI, Prof. Fadli Zon, memberikan apresiasi atas inisiatif Pemerintah Kota Bukittinggi. Ia menilai kegiatan ini tidak hanya membangkitkan kesadaran sejarah dan budaya, tetapi juga menggerakkan perekonomian serta menciptakan efek berganda (multiplier effect) bagi masyarakat setempat.
"Bukittinggi jadi simbol sejarah kemerdekaan Indonesia. Untuk itu, saya mendorong terus bagaimana slogan Bukittinggi Kota Perjuangan harus dikedepankan," kata Fadli Zon.
Menteri yang akrab disapa Fadli Zon itu menambahkan, Bukittinggi memiliki peran penting sebagai pusat Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) pada 1948. Ia mengingatkan bahwa tugas seluruh pihak saat ini adalah menjaga warisan budaya tersebut agar tetap lestari dan dapat diwariskan kepada generasi mendatang.
Wali Kota Ramlan menekankan bahwa kerja sama internasional yang terjalin melalui peringatan 100 tahun Jam Gadang harus memberikan keuntungan nyata bagi daerah. "Dengan kerjasama itu, kita ingin ada keuntungan bagi daerah Bukittinggi, yang berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat," tegasnya.
Seminar internasional ini menjadi salah satu rangkaian acara dalam perhelatan besar peringatan satu abad Jam Gadang yang melibatkan puluhan negara dan diharapkan mampu memperkuat posisi Bukittinggi di peta pariwisata dan diplomasi budaya nasional.