Satgas BBM Pasaman Barat Razia SPBU, Antrean Kendaraan Masih Panjang Imbas Perbedaan Harga Subsidi dan Non Subsidi

Penulis: Zulkifli Arief  •  Senin, 22 Juni 2026 | 21:43:01 WIB
Satgas BBM Pasaman Barat melakukan razia untuk mengawasi distribusi BBM subsidi di SPBU.

SIMPANG EMPAT — Antrean kendaraan di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Pasaman Barat masih terlihat hingga saat ini. Tim Satgas Pengawasan BBM yang terdiri dari unsur kepolisian, kejaksaan, dan Pertamina pun mengintensifkan razia rutin untuk menekan potensi penyelewengan distribusi.

Perbedaan Harga Rp 17.000 Jadi Pemicu Utama

Kepala Dinas Perdagangan Koperasi dan UKM Pasaman Barat, Agusli, menjelaskan bahwa lonjakan antrean dipicu oleh perbedaan harga yang signifikan. "Dengan perbedaan harga yang cukup tinggi maka sebagian pemilik kendaraan yang biasanya menggunakan dexlite beralih ke biosolar. Ini yang menyebabkan masih terjadinya antrean kendaraan," katanya di Simpang Empat, Senin.

Data yang dihimpun menunjukkan, harga Pertalite subsidi Rp10.000 per liter, sementara Pertamax non subsidi mencapai Rp17.000 per liter. Untuk solar, Biosolar dijual Rp6.800 per liter, sedangkan Dexlite Rp24.000 per liter. Selisih hingga tiga kali lipat ini mendorong pemilik kendaraan niaga dan pribadi untuk beralih ke jenis subsidi.

Razia Fokus pada Kesesuaian Barcode Kendaraan

Dalam setiap operasi, Satgas memeriksa kesesuaian antara jenis BBM yang dibeli dengan kode barang atau barcode kendaraan. "Penyaluran BBM subsidi harus sesuai dengan barcode atau kode barang masing-masing kendaraan," tegas Agusli. Tim juga memastikan tidak ada SPBU yang menjual BBM bersubsidi kepada kendaraan yang tidak berhak.

Informasi dari rapat koordinasi dengan para pemilik SPBU beberapa waktu lalu menyebutkan bahwa tidak ada pengurangan kuota BBM subsidi untuk wilayah Pasaman Barat. Artinya, pasokan sebenarnya mencukupi, namun distribusinya belum sepenuhnya tepat sasaran.

Langkah Lanjutan: Pengawasan Diperketat

Satgas pengawasan BBM bersama aparat penegak hukum berkomitmen untuk terus meningkatkan pengawasan di lapangan. "Tim Satgas pengawasan BBM dan penegak hukum juga akan selalu berupaya melakukan pengawasan di lapangan agar penyalurannya tepat sasaran," ujar Agusli.

Upaya ini diharapkan dapat memutus rantai peralihan konsumsi dari kendaraan non subsidi ke subsidi yang selama ini memperparah antrean. Masyarakat juga diimbau untuk melaporkan jika menemukan indikasi penyalahgunaan BBM bersubsidi di SPBU setempat.

Reporter: Zulkifli Arief
Sumber: sumbar.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top