PAINAN — Dari sekitar 8.600 peserta TKA di Pesisir Selatan, capaian terendah terjadi pada mata pelajaran Matematika tingkat SD yang hanya menyentuh rata-rata 41,41. Angka itu menempatkan daerah ini di peringkat ke-18 dari 19 kabupaten/kota di Sumatera Barat. Untuk Bahasa Indonesia SD, rata-rata 58,66 juga masih bertahan di peringkat yang sama.
Kondisi serupa terjadi di jenjang SMP. Rata-rata Matematika hanya 40,05 dan menduduki peringkat ke-14, sementara Bahasa Indonesia dengan rata-rata 58,12 berada di peringkat ke-17. Bupati Hendrajoni menyebut data ini sebagai alarm bahwa tata kelola pendidikan selama ini belum menyentuh peningkatan kompetensi murid secara nyata.
Dalam sambutannya di Gedung Painan Convention Center, Selasa (23/6/2026), Hendrajoni menekankan bahwa pengelolaan pendidikan di Pesisir Selatan masih berjalan sebagai rutinitas tanpa inovasi yang berdampak langsung.
“Cara kita mengelola pendidikan masih sebatas rutinitas dan belum menghadirkan inovasi yang berdampak langsung terhadap peningkatan kompetensi murid,” tegasnya di hadapan kepala dinas, pengawas sekolah, dan kepala sekolah SD serta SMP se-kabupaten.
Bupati meminta Dinas Pendidikan memperkuat tata kelola sesuai visi misi daerah, melakukan evaluasi setiap tiga bulan, dan memastikan setiap kunjungan ke sekolah menghasilkan bahan evaluasi yang konkret. Pengawas sekolah diminta tidak hanya menjalankan tugas administratif, tetapi aktif mendorong inovasi pembelajaran di sekolah binaan.
Hendrajoni juga mengungkapkan laporan tentang praktik tidak sehat di lingkungan sekolah. Ia menyebut adanya kepala sekolah yang melaksanakan ujian hanya untuk mendapatkan fee dari percetakan soal, pengadaan buku demi keuntungan tertentu, hingga pengadaan lain yang berorientasi cashback.
“Cara-cara seperti ini akan merusak tatanan pendidikan dan menjauhkan sekolah dari orientasi peningkatan mutu,” ungkapnya.
Menurutnya, praktik tersebut menjadi salah satu faktor yang menyebabkan capaian akademik peserta didik di Pesisir Selatan rendah. Ia meminta jajarannya melakukan analisis akar persoalan dan menyusun langkah perbaikan yang terukur.
Kepala BKPSDM Kabupaten Pesisir Selatan menambahkan, berdasarkan kajian pakar, penurunan mutu pendidikan juga dipicu oleh kualitas tenaga pendidik yang masih perlu ditingkatkan. Pemerataan guru antarwilayah juga dinilai belum optimal.
“Mutu pendidikan yang menurun menurut para pakar salah satunya disebabkan oleh kualitas guru yang mengajar yang dinilai masih kurang. Pemerataan guru juga menjadi hal yang sangat penting untuk diperhatikan,” katanya.
Menutup arahannya, Bupati Hendrajoni mengajak seluruh pemangku kepentingan menjadikan peringkat ke-18 sebagai titik balik. “Jadikan data ini sebagai cambuk semangat untuk terus berinovasi dan meningkatkan kualitas proses belajar mengajar, sehingga pada pengukuran berikutnya kita mampu meraih hasil yang lebih baik dan membanggakan,” tutupnya.