PARIAMAN — Rangkaian prosesi Pesona Budaya Tabuik Piaman 2026 yang berlangsung sejak awal Muharram di Kota Pariaman, Sumatera Barat, mulai menunjukkan dampak nyata bagi perekonomian warga. Pemkot mencatat, para pedagang UMKM yang berjualan di titik-titik pembuatan ornamen hingga lokasi prosesi kebudayaan ini mengalami peningkatan omzet.
Feriadi menyebutkan, di Rumah Tabuik Pasa—salah satu lokasi perakitan ornamen Tabuik—setiap malam terdapat 15 hingga 20 pedagang yang berjualan. Angka ini belum termasuk pedagang di lokasi lain yang menjadi titik prosesi.
"Keberadaan pedagang serta pengunjung yang menyaksikan setiap prosesi menunjukkan pelaksanaan kegiatan setiap awal Muharram tersebut berdampak pada perekonomian masyarakat," kata Feriadi di Pariaman, Selasa.
Padahal, prosesi yang telah berlangsung hingga Senin malam baru memasuki tahap 'Maarak Jari-Jari' atau mengarak jari-jari. Acara puncak 'Tabuik Dibuang Ka Lauik' alias pembuangan Tabuik ke laut baru akan digelar pada 28 Juni 2026.
Pemkot Pariaman menargetkan total kunjungan wisatawan sepanjang perayaan Tabuik tahun ini mencapai 300 ribu orang. Rinciannya, 200 ribu pengunjung diproyeksikan hadir pada prosesi puncak, dan 100 ribu lainnya tersebar di berbagai kegiatan sebelum hari H.
Menurut Feriadi, jumlah pengunjung yang menyaksikan sejumlah prosesi dan pembuatan ornamen pada tahun ini lebih banyak dibanding tahun lalu. "Ini mungkin terjadi karena Tabuik dilaksanakan bertepatan dengan libur sekolah," ujarnya.
Salah seorang pedagang di Simpang Tabuik, Andri, mengaku omzetnya meningkat setiap kali ada prosesi. Meskipun pendapatannya berkisar ratusan ribu rupiah per prosesi, lokasi tersebut kerap menjadi titik pelaksanaan kegiatan dalam rangkaian Tabuik.
Salah seorang pengunjung, Zahra Salsabila, mengaku datang bersama teman-temannya untuk menyaksikan prosesi Basalisiah dalam rangkaian 'Maarak Jari-Jari'. Menurutnya, meski terdapat unsur kekerasan berupa aksi lempar-lemparan benda antara dua kelompok—Tabuik Pasa dan Sumbarang—panitia telah menyediakan pembatas untuk meminimalisir dampak terhadap pengunjung.
"Kegiatan ini sayang untuk dilewatkan," ujar Zahra.