PADANG PANJANG — Warga yang datang ke lokasi kegiatan tak perlu merogoh kocek sepeser pun untuk mendapatkan layanan terapi totok punggung. Inisiatif ini lahir dari kepedulian PWI yang tak hanya berhenti pada fungsi jurnalistik, tetapi juga terjun langsung memberikan manfaat sosial bagi masyarakat.
Ketua PWI Kota Padang Panjang Supriyanto mengatakan, kegiatan ini memiliki pesan yang lebih dalam dari sekadar pengobatan gratis. Pihaknya ingin mengajak masyarakat untuk menjaga kebugaran fisik sebagai fondasi utama dalam menghadapi situasi darurat, terutama saat bencana melanda.
"Masyarakat yang sehat merupakan fondasi masyarakat yang tangguh menghadapi bencana. Melalui terapi Topung ini kami ingin menyampaikan pesan pentingnya menjaga kesehatan agar lebih siap menghadapi berbagai situasi darurat," kata Supriyanto.
Ketua KTPI Padang Panjang Firdaus menjelaskan, kondisi fisik yang prima menjadi faktor krusial dalam respons darurat. Seseorang dengan tubuh yang sehat dinilai mampu bertindak lebih cepat dan tepat saat keadaan genting, seperti saat gempa bumi terjadi.
"Kesehatan menjadi salah satu aspek penting dalam mitigasi bencana karena kondisi fisik yang baik akan membantu seseorang bertindak lebih cepat saat menghadapi keadaan darurat," ujar Firdaus.
KTPI sendiri, kata Firdaus, tengah gencar mengampanyekan gerakan "Satu Rumah Satu Terapis". Gerakan ini bertujuan agar setiap keluarga di Padang Panjang memiliki setidaknya satu anggota yang menguasai pengetahuan dasar terapi totok punggung untuk menjaga kesehatan secara mandiri.
Supriyanto menambahkan, kerja sama dengan KTPI ini diharapkan bisa menjadi model kolaborasi antara organisasi profesi dan komunitas. Ia menilai, sinergi semacam ini mampu menghadirkan kegiatan sosial yang lebih terarah dan tepat sasaran bagi warga.
"Wartawan tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga memiliki tanggung jawab sosial untuk memberi manfaat secara langsung kepada masyarakat," tegasnya.
Layanan terapi gratis ini menjadi salah satu rangkaian acara refleksi satu abad gempa bumi Padang Panjang yang juga bertepatan dengan peringatan Bulan Mitigasi Bencana. Melalui kegiatan ini, PWI berharap masyarakat tak hanya sekadar mengingat tragedi masa lalu, tetapi juga mengambil langkah nyata untuk memperkuat kesiapsiagaan.