SUMATERA BARAT — Direktur NEXT Indonesia Center, Herry Gunawan, mendorong konsolidasi PalmCo (sub-holding sawit PTPN Group) dengan PT Agrinas Palma Nusantara. Menurutnya, kedua entitas memiliki garis bisnis identik: dari hulu perkebunan sawit hingga hilir, termasuk memproduksi Minyakita dan biodiesel.
"Dua entitas ini sebaiknya digabungkan, seperti yang sudah terjadi di InJourney atau Pelindo, agar terkonsolidasi," ujar Herry di Jakarta, Rabu (22/7/2026).
Ia menegaskan, restrukturisasi harus menyudahi persaingan internal antar-BUMN. "Dengan demikian bisa saling mendukung, bukan saling beradu di pasar yang sama," katanya.
Usulan ini muncul di tengah gencarnya program efisiensi pemerintah. Presiden Prabowo Subianto, dalam Sidang Kabinet Paripurna, Senin (20/7/2026), mengungkapkan bahwa penggabungan dan penutupan 250 BUMN hingga 31 Juli 2026 telah menghemat Rp50 triliun.
Angka itu berasal dari pengurangan biaya overhead: gaji direksi, komisaris, sewa gedung, dan listrik. Prabowo menargetkan jumlah BUMN menyusut dari 1.077 menjadi maksimal 350 pada akhir 2026.
"Mereka (Danantara, red.) menyanggupi," kata Presiden. Ia yakin jika target perampingan tercapai, penghematan bisa mendekati Rp70 triliun hingga Rp80 triliun.
PalmCo dan Agrinas Palma sebelumnya telah menjalin perjanjian kerja sama strategis. Kolaborasi itu mencakup pendampingan pengelolaan kebun sawit dan produksi Minyakita yang diproyeksikan mencakup 30% kebutuhan nasional.
Herry menambahkan, penggabungan akan memperkuat ekosistem bisnis perkebunan. Kedua BUMN memiliki visi yang sama: mengembangkan energi baru terbarukan (EBT) dari sawit, termasuk mendukung program mandatori biodiesel B50 hingga B100 di masa depan.
"Dengan konsolidasi, program strategis nasional seperti percepatan kemandirian pangan dan energi bisa berjalan lebih efisien," pungkasnya.