LUBUKBASUNG — Pemerintah Kabupaten Agam memprioritaskan tiga nagari yang teridentifikasi rawan pangan berdasarkan peta kerentanan tahun sebelumnya. Nagari Malalak Timur, Nagari Koto Tuo, dan Nagari Pagadih menjadi sasaran program mandiri pangan yang mulai disalurkan pekan lalu.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Agam Rosva Deswira menjelaskan, pemilihan ketiga nagari berdasarkan tiga aspek: ketersediaan pangan, keterjangkauan pangan, dan pemanfaatan pangan. Indikatornya mencakup rasio luas lahan pertanian terhadap jumlah penduduk, akses jalan, serta ketersediaan air bersih dan tenaga kesehatan.
"Tiga nagari ini merupakan daerah rawan pangan berdasarkan hasil peta kerentanan maupun kerawanan pangan tahun sebelumnya," ujarnya di Lubuk Basung, Sabtu lalu.
Setiap nagari menerima bantuan berupa bibit cabai merah keriting, cabai rawit, terung, bibit jagung, pupuk cair, mulsa, waring, dan pestisida. Nilai total per nagari mencapai Rp18 juta. Bantuan tidak diberikan langsung ke individu, melainkan kepada kelompok afinitas yang dibentuk khusus untuk mengelola bantuan dan melanjutkan program.
"Bantuan tersebut diberikan kepada kelompok afinitas yang dibentuk untuk mengelola bantuan dan melanjutkan program, sehingga dapat meningkatkan ekonomi masyarakat. Apabila ekonomi meningkat, ketahanan pangan akan tersedia," kata Rosva.
Pemkab Agam merancang program ini sebagai model bertahap. Jika kelompok afinitas di tiga nagari berhasil mengelola bantuan dan menunjukkan peningkatan hasil, pemerintah akan melanjutkan ke tahap berikutnya. Dengan demikian, ketahanan pangan tidak hanya bersifat sementara, tetapi dapat berkelanjutan.
"Saat ini bantuan diberikan per kelompok. Apabila sukses, akan berlanjut yang bisa meningkatkan ketahanan pangan dan ekonomi masyarakat di nagari," tambah Rosva.
Program ini menjadi bagian dari upaya daerah mengurangi kerentanan pangan di wilayah perbukitan Agam, sekaligus mendorong kemandirian ekonomi nagari melalui sektor pertanian.