PADANG — Sebanyak 200-an titik panas terdeteksi di Sumatera Barat (Sumbar) dalam dua pekan pertama Agustus 2026. Temuan ini berdasarkan pemantauan satelit NOAA yang dikoordinasikan dengan Dinas Kehutanan setempat.
Kepala DLH Sumbar, Tasliatul Fuadi, mengatakan titik panas tersebut tersebar di enam kabupaten. Wilayah yang masuk daftar pantauan antara lain Dharmasraya, Sijunjung, Pesisir Selatan, Pasaman, Pasaman Barat, dan Limapuluh Kota.
Meski kabut asap mulai terlihat secara visual di sejumlah wilayah, Tasliatul memastikan kualitas udara belum masuk kategori mengkhawatirkan. Berdasarkan alat pemantauan di Padang Pariaman, kondisi udara selama 13 hari terakhir masih berada pada level baik hingga sedang.
“Belum sampai kepada tingkat tidak sehat, apalagi sangat buruk. Masih kondisi lebih baik, masih hijau,” ujarnya di Padang, Sabtu (15/8/2026).
Namun, sejumlah warga Kota Padang merasakan dampak berbeda. Riko (42) mengaku kabut cukup tebal sehingga pandangan ke langit menjadi kurang jelas. Hal serupa disampaikan Riksi (32) yang menyebut kabut paling terlihat pada pagi hari.
Imbauan kewaspadaan ini muncul karena BMKG memperkirakan puncak musim kemarau di Sumbar berlangsung pada Juli hingga September. Kombinasi antara kemarau panjang dan aktivitas pembakaran lahan berpotensi memperparah sebaran asap.
DLH Sumbar mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara dibakar. Langkah ini dinilai krusial untuk mencegah meluasnya titik panas yang bisa berubah menjadi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berskala besar.
Pemantauan kualitas udara akan terus dilakukan secara berkala. Jika kondisi memburuk, DLH akan menyampaikan informasi lebih lanjut kepada publik melalui kanal resmi pemerintah daerah.