PADANG — PT Jasa Armada Indonesia Tbk (IPCM) menerapkan inovasi ramah lingkungan pada kapal pandu yang beroperasi di Pelabuhan Teluk Bayur, Padang, Sumatera Barat. Sistem hibrida pada mesin bantu (Auxiliary Engine) kapal tersebut menggabungkan sumber energi konvensional dengan baterai energi hibrida.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya perusahaan pelat merah itu menekan emisi armada sekaligus mendukung operasional pelabuhan yang lebih efisien. Kapal pandu sendiri berperan penting dalam memandu kapal besar saat sandar dan lepas dari dermaga.
Teknologi yang dipasang pada kapal pandu ini tidak sepenuhnya menggantikan mesin utama. Sistem hibrida justru bekerja pada mesin bantu yang selama ini menjadi salah satu penyumbang emisi saat kapal berada di area pelabuhan.
Selain memanfaatkan mesin bantu, kapal juga dilengkapi sambungan listrik dari darat atau shore connection. Kombinasi ini memungkinkan kapal mengurangi konsumsi bahan bakar minyak secara signifikan saat bersandar atau melakukan manuver di perairan pelabuhan.
Inovasi ini sejalan dengan tren dekarbonisasi yang tengah didorong di sektor maritim nasional. Pelabuhan Teluk Bayur menjadi salah satu titik strategis di pesisir barat Sumatera yang melayani aktivitas bongkar muat dan lalu lintas kapal niaga.
Dengan hadirnya kapal pandu hibrida, IPCM berharap dapat memberikan kontribusi nyata terhadap pengurangan emisi karbon di kawasan pelabuhan. Langkah serupa dinilai penting untuk diadopsi secara lebih luas di pelabuhan lain di Indonesia.
Petugas terlihat mempersiapkan kapal pandu yang telah dilengkapi mesin hibrida tersebut di Pelabuhan Teluk Bayur, Jumat (14/8/2026). Persiapan ini menjadi bagian dari prosedur operasional sebelum kapal dikerahkan untuk bertugas.
Secara teknis, baterai energi hibrida akan menjadi sumber tenaga utama saat kapal membutuhkan daya rendah, seperti ketika menunggu atau merapat. Mesin bantu konvensional baru akan bekerja ketika dibutuhkan tenaga lebih besar, misalnya saat kapal pandu bergerak menuju kapal yang akan dipandu.
Pendekatan ini tidak hanya menekan emisi, tetapi juga berpotensi menghemat biaya operasional bahan bakar dalam jangka panjang. Perawatan mesin juga diharapkan lebih ringan karena beban kerja mesin bantu berkurang.
Ke depan, evaluasi berkala terhadap performa kapal pandu hibrida di Teluk Bayur akan menentukan efektivitas teknologi ini sebelum kemungkinan diterapkan pada unit kapal pandu dan tunda lainnya.