Mara Spike Siap Berburu Drone FPV dengan Harga Setara Drone Musuh

Penulis: Zulkifli Arief  •  Sabtu, 29 Agustus 2026 | 23:28:32 WIB
Mara, perusahaan rintisan teknologi pertahanan, mengumumkan pendanaan awal senilai USD 7 juta untuk produksi sistem counter-drone Spike.

SUMATERA BARAT — Mara, perusahaan rintisan di bidang teknologi pertahanan, resmi mengumumkan pendanaan awal (pre-seed) senilai USD 7 juta. Dana tersebut akan digunakan untuk memproduksi sistem counter-drone portabel bernama Spike yang dirancang untuk menjawab ancaman drone FPV murah yang kini menjadi momok di medan perang modern.

Berbeda dengan sistem pertahanan udara konvensional yang mahal, Spike mengusung konsep "berburu dengan harga yang sama". Interceptor bernama Seeker ini dibanderol tidak lebih dari beberapa ratus dolar AS, setara dengan harga drone FPV yang biasa digunakan untuk menghancurkan kendaraan lapis baja miliaran rupiah.

Mengapa Drone FPV Menjadi Ancaman Serius?

Drone FPV (First Person View) telah mengubah taktik perang di Ukraina. Menurut laporan, drone jenis ini kini menjadi penyebab utama jatuhnya korban jiwa di kalangan tentara Ukraina. Harganya yang murah dan kemampuannya membawa muatan peledak membuatnya menjadi senjata yang efektif dan sulit dihadapi.

CEO Mara, Daniel Kofman, menjelaskan dalam wawancara eksklusif dengan Tectonic Defense bagaimana kru FPV beroperasi di garis depan. "Mereka meluncur dari mana saja dan kapan saja, dan mereka tidak pernah menyerang satu per satu. Mereka selalu menyerang empat hingga enam unit sekaligus dalam gelombang, melakukan serangan menjepit dengan cepat atau bersamaan," ujarnya.

Sistem Spike: Cara Kerja dan Spesifikasi Utama

Spike terdiri dari tiga komponen utama: peluncur (launcher), interceptor Seeker, dan unit penarget Spotter. Sistem ini dirancang untuk mendeteksi, melacak, dan menghancurkan drone musuh secara otonom, termasuk drone serat optik dan drone sepenuhnya otonom yang tidak memancarkan sinyal kendali.

  • Interceptor Seeker: Drone otonom seberat 250 gram dengan jangkauan hingga 1,6 km. Diklaim 20 kali lebih murah dibandingkan sistem interceptor lain yang ada di pasaran.
  • Peluncur Spike: Satu unit peluncur dapat menampung hingga 48 unit Seeker dan dapat diisi ulang dalam waktu kurang dari satu menit.
  • Unit Spotter: Menggabungkan sensor elektro-optik dan akustik dengan radar gelombang milimeter (W-band) opsional. Sistem ini mampu mendeteksi dan melacak drone dalam segala cuaca, siang maupun malam.

Kunci keunggulan Spike terletak pada harganya. Mara mengklaim interceptor Seeker memiliki rasio biaya "satu lawan satu" atau "dua lawan satu" terhadap drone yang dihancurkannya. Ini adalah pendekatan yang jauh lebih ekonomis dibandingkan rudal pencegat yang harganya bisa mencapai jutaan dolar.

Perbandingan dengan Sistem Anti-Drone Lain

Di pasaran, sudah ada beberapa sistem anti-drone dengan pendekatan berbeda. Lockheed Martin, misalnya, mengembangkan sistem Morfius X-Rotor yang menggunakan gelombang mikro berdaya tinggi untuk menjatuhkan gerombolan drone. Namun, sistem tersebut harganya jauh lebih mahal.

Di sisi lain, Ukraina juga mengembangkan interceptor cetak 3D seharga sekitar USD 1.000 untuk menyerang drone Shahed. Namun, sistem tersebut ditargetkan untuk drone yang lebih besar dan lebih lambat, bukan drone FPV yang kecil dan lincah. Spike hadir untuk mengisi celah tersebut dengan harga yang diklaim 20 kali lebih murah dari alternatif paling ekonomis sekalipun.

Status Pengembangan dan Uji Coba

Mara telah bergabung dengan akselerator DIANA NATO untuk kohort 2026 dan memiliki perjanjian riset dengan tiga organisasi pertahanan AS yang tidak disebutkan namanya. Sistem Spotter juga telah diuji di dekat garis depan Ukraina, di mana ia berhasil melacak beberapa drone FPV dari jarak 40 km.

Perusahaan juga tengah menjalankan program percontohan sipil di sebuah pelabuhan komersial di Korea Selatan. Mara telah menerima pesanan berbayar pertama dari mitra NATO Eropa untuk latihan yang tidak diungkapkan detailnya.

Jadwal Rilis dan Target Pasar

Unit Spike versi ground-mounted dijadwalkan dikirim ke pelanggan pada akhir 2026. Setelah itu, perusahaan berencana memproduksi varian yang dipasang di kendaraan dan versi jinjing (man-portable) pada 2027.

Dengan pendekatan biaya yang agresif dan kemampuan untuk menghadapi ancaman drone otonom, Spike menawarkan solusi baru bagi militer modern. Sistem ini menjawab kebutuhan mendesak akan pertahanan yang efektif dan terjangkau di tengah meningkatnya penggunaan drone murah di medan perang.

Reporter: Zulkifli Arief
Sumber: tomshardware.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top